Modul 7 Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4407
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
MODUL 7
PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA DAN TUNALARAS
Kegiatan Belajar 1
Definisi, Penyebab, Klasifikasi, Dan Dampak Tunadaksa
A. Pengertian dan Definisi Anak Tunadaksa
Tunadaksa (cacat tubuh) yaitu berbagai kelainan bentuk tubuh yang mengakibatkan kelainan fungsi dari tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Anak tunadaksa juga dapat didefinisikan sebagai bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang, persendian, dan saraf yang disebabkan oleh penyakit, virus, dan kecelakaan. Gangguan itu menyebabkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan pribadi. Cacat tubuh merupakan bagian dari tuna daksa.
B. Penyebab ketunadaksaan
Penyebab ketunadaksaan dapat dikelompokkan menurut saat terjadinya :
a. Sebab-sebab sebelum kelahiran (fase prenatal)
b. Sebab-sebab pada saat kelahiran (fase natal)
c. Sebab-sebab setealah proses kelahiran (fase postnatal)
C. Klasifikasi Anak Tunadaksa
Klasifikasi anak tunadaksa ditinjau dari kelainannya, dapat dibedakan :
1. Kelainan pada sistem celebral
Merupakan kelainan yang terletak pada sistem saraf pusat, seperti kelumpuhan otak
(celebral palsy).
Menurut derajat kecacatannya, Celebral Palsy dibedakan menjadi tiga :
a. Ringan
b. Sedang
c. Berat
Menurut letak kelainan di otak dan fungsi gerakannya, Celebral Palsy dibedakan atas :
a. Spastik, yaitu kekakuan pada sebagian atau seluruh ototnya
b. Dyskenisia, meliputi athetosis, penderita melihat gerakan yang tidak terkontrol
c. Ataxia, adanya gangguan keseimbangan, koordinasi tangan dan mata tidak berfungsi
d. Jenis campuran, seorang anak mempunyai kelainan dua atau lebih dari tiper-tipe di atas.
2. Kelainan pada sistem otot dan rangka
Penggolongan anak tunadaksa dalam kelompok kelainan system dan rangka :
a. Poliomyelitis
Merupakan suatu infeksi pada sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh virus polio.
Kelumpuhan anak polio dibedakan menjadi 3:
a. Tipe spinal, kelumpuhan pada otot leher, sekat dada, tangan, dan kaki
b. Tipe bulbaris, kelumpuhan fungsi motorik pada saraf tepi , ditandai adanya
gangguan pernapasan
c. Tipe bulbospinalis, gabungan antara spinal dan bulbaris
d. Encephalitis, disertai dengan demam, kesadaran menurun, kejang. Polio tidak menyebabkan gangguan kecerdasan atau alat-alat indera.
Akibat polio : oto menjadi lebih kecil, pemendekan anggota gerak, tulang belakang melengkung ke arah satu sisi, kelaianan telapak kaki, dan dislokasi.
b. Muscle Dystrophy, mengakibatkan otot tidak berkembang karena kelumpuhan yang sifatnya progresif dan simetris.
c. Spina Bifida, kelainan pada tulang belakang ditandai dengan terbukanya satu atau tiga ruas tulang belakang dan tidak tertutup kembali dalam proses perkembangan.
D. Dampak Tunadaksa
1. Dampak Aspek Akademik
Tingkat kecerdasan pada anak tunadaksa dengan kelainan otot dan rangka adalah normal
Tingkat kecerdasan pada anak tunadaksa dengan kelainan pada sistem celebral, tingkat kecerdasannya berentang dari sangat rendah sampai sangat tinggi.
Selain tingkat kecerdasan yang bervariasi anak Celebral Palsy mengalami kelainan persepsi, kognisi, dan simbolisasi.
2. Dampak Sosial/Emosional
Konsep diri anak tunadaksa yang merasa dirinya cacat, tidak berguna, dan menjadi beban orang lain menjadikan mereka malas belajar, bemain, dan berperilaku salah.
3. Dampak Fisik/Kesehatan
Selain mengalami cacat tubuh anak tunadaksa juga mengalami gangguan lain, seperti sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, penglihatan, gangguan bicara.
Kegiatan Belajar 2
Kebutuhan Khusus dan Profil Pendidikan Anak Tunadaksa
A. Kebutuhan Khusus Anak Tunadaksa
Kelainan fisik dan gangguan kesehatan begitu luas, sehingga mereka membutuhkan hal-hal sebagai berikut.
1. Kebutuhan akan keleluasaan gerak dan memosisikan diri
2. Kebutuhan komunikasi
3. Kebutuhan ketrampilan memelihara diri
4. Kebutuhan Psikososial
B. Profil Pendidikan Anak Tunadaksa
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan anak tunadaksa mengacu Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1991 agar peserta didik mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai
pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar, serta dapat mengemabngkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan.. Connor (1975) dalam Musyafak Asyari (1995) mengemukakan bahwa dalam pendidikan anak tunadaksa perlu dikembangkan tujuh aspek yang diadaptasikan sebagai berikut.
a. Pengembangan intelektual dan akademik
b. Membantu perkembangan fisik
c. Meningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan diri anak
d. Mematangkan aspek sosial
e. Meningkatkan ekspresi diri
f. Mempersiapkan masa depan anak
2. Sistem Pendidikan
Sesuai dengan pengorganisasian tempat pendidikan maka sistem pendidikan anak tunadaksa dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Pendidikan Integrasi (terpadu)
b. Pendidikan segregasi (terpisah)
c. Sistem Inklusif
3. Pelaksanaan pembelajaran
Dalam pelaksanaan pembelajaran akan dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan keterlaksanaannya, seperti berikut.
a. Perencanaan kegiatan belajar-mengajar
b. Prinsip pembelajaran
4. Penataan Lingkungan belajar dan Sarana khusus
Beberapa kondisi khusus mengenai gedung sekolah adalah sebagai berikut.
a. Macam-macam ruangan khusus
b. Jalan masuk menuju sekolah sebaiknya dibaut keras dan rata yang memungkinkan anak tunadaksa yang memakai alat bantu dapat bergerak dengan aman.
c. Tangga sebaiknya disediakan jalur lantai yang dibuat miring dan landau
d. Lantai bangunan baik didalam dan diluar gedung sebaiknya dibuat dari bahan yang tidak licin
e. Pintu-pintu ruangan sebaiknya lebih lebar dari pintu biasa
f. Untuk menghubungkan kelas sebaiknya disediakan lorong yang lebar dan ada pegangan ditembok
g. Pada beberapa dinding lorong dapat dipasang cermin besar
h. Kamar mandi sebaiknya dekat dengan kelas
i. Dipasang WC duduk agar anak tidal perlu berongkok
Kegiatan Belajar 3
Definisi, Klasifikasi, Penyebab, dan Dampak Ketunalarasan
A. Pengertian dan Definisi Anak Tunalaras
Istilah tunalaras berasal dari kata “tuna” yang berarti kurang dan “laras” berarti sesuai. Jadi, anak tunalaras berarti anak yang bertingkah laku kurang sesuai dengan lingkungan. perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang terdapat di dalam masyarakat tempat ia berada. Berbagai definisi yang diadaptasi oleh Lynch dan Lewis (1988) adalah sebagai berikut,
1. Public Law 94-242 (Undang-undang tentang PLB di Amerika Serikat) mengemukakan pengertian tunalaras dengan istilah gangguan emosi yaitu kondisi yang menunjukkan salah satu atau lebih gejala- gejala berikut dalam satu kurun waktu tertentu dengan tingkat yang mempengaruhi prestasi belajar :
a. Ketidakmampuan belajar dan tidak dapat dikaitkan dengan faktor kecerdasan, pengindraan atau kesehatan
b. Ketidakmampuan menjalin hubungan yang menyenangkan teman dan guru
c. Bertingkah laku yang tidak pantas pada keadaan normal
d. Perasaan tertekan atau tidak bahagia terus-menerus
e. Cenderung menunjukkan gejala-gejala fisik seperti takut pada masalah-masalah sekolah
2. Kauffman (1977) mengemukakan tunalaras adalah anak yang secara kronis mencolok berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang secara sosial tidak dapat diterima atau secara pribadi tidak menyenangkan tetapi masih dapat diajar untuk bersikap yang secara sosial dapat diterima dan secara pribadi menyenangkan.
3. Schmid dan Mercer (1981) mengemukakan tunalaras adalah anak yang secara kondisi dan terus menerus menunjukkan penyimpangan tingkah laku tinhkat berat yang mempengaruhi proses belajar, tetapi tidak disebabkan oleh kelainan fisik, saraf, atau intelegensia.
4. Nelson (1981) mengemukakan, murid dikatakan menyimpang jika :
a. Menyimpang dari perilaku yang oleh orang dewasa dianggap
tidak normal menurut usia dan jenis kelaminnya
b. Penyimpangan terjadi dengan frekuensi dan intensitas tinggi
c. Penyimpangan berlangsung dalam waktu yang relative lama
B. Klasifikasi Anak Tunalaras
Pengklasifikasian anak tunalaras diantaranya sebagai berikut :
1. Rosembera dkk. (19292)
Anak tunalaras dikelompokkan atas tingkah laku yang berisiko tinggi dan rendah. Yang berisiko tinggi yaitu hiperaktif, agresif, pembangkang, delinkuensi dan anak yang menarik diri dari pergaulan sosial. Sedangkan yang berisiko rendah yaitu autisme dan skizofrenia. Secara umum anak tunalaras menunjukkan ciri-ciri yaitu kekacauan tingkah laku, kecemasan dan menarik diri dari, kurang dewasa, dan agresif.
2. Quay (1979) dalam Samuel A. Kirk and James J. Gallagher (1986)
a. Anak yang mengalami gangguan perilaku yang kacau (conduct disorder) mengacu pada tipe anak yang melawan kekuasaan
b. Anak yang cemas-menarik diri (anxious-whitedraw) adalah anak yang pemalu, takut-takut, suka menyendiri, peka, dan penurut.
c. Dimensi ketidakmatangan (immaturity) mengacu kepada anak yang tidak dapat perhatian, lambat, tak berminat sekolah, pemalas, suka melamun, dan pendiam
d. Anak agresi sosialisasi (socialized-aggressive) mempunyai ciri atau masalah perilaku bersosialisai dengan “geng” tertentu.
C. Penyebab Ketunalarasan
Faktor penyebab ketunalarasan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Faktor Keturunan
Yaitu adanya garis keturunan yang menderita depresi dapat menambah kemungkinan bagi seseorang mempunyai depresi. Tetapi dapat saja tidak terjadi jika individu tersebut tidak menghadapi peristiwa hidup yang dapat menimbulkan depresi.
2. Faktor Kerusakan Fisik
Faktor sebagai pencetus yang menyebabkan gangguan emosional dalam hal ini adalah : kelainan saraf, cidera, problem kimiawi tubuh dan metabolisme, genetika.
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan antara lain : hubungan keluarga yang tidak harmonis, tekanan-tekanan masyarakat, pengaruh sekolah seperti interaksi guru dan murid atau antara murid itu sendiri yang tidak baik,
pengaruh komunitas pada anak remaja, dll.
4. Faktor Lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan.
D. Dampak Anak Tunalaras
1. Dampak Akademik
Akibat penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk, maka dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pencapaian hasil belajar di bawah rata-rata
b. Sering mendapatkan tindakan discipliner
c. Sering tidak naik kelas bahkan keluar sekolah
d. Sering membolos sekolah
e. Sering dikirim ke lembaga kesehatan dengan alasan sakit, perlu istirahat
f. Anggota keluarga sering mendapat panggilan dari petugas kesehatan atau bagian absensi
g. Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi
h. Sering menjalani masa percobaan dari yang berwewenang
i. Lebih sering melakukan pelanggaran hukum dan pelanggaran tanda-tanda lalu lintas
j. Lebih sering dikirim ke klinik bimbingan
2. Dampak Sosial/Emosional
a. Aspek sosial
1) Perilaku tidak diterima oleh masyarakat dan biasanya melanggar norma budaya, dan perilaku melanggar aturan keluarga, sekolah, dan rumah tangga
2) Ditandai dengan tindakan agresif yaitu tidak mengikuti aturan, bersifat mengganggu, mempunyai sikap membangkang, tidak dapat bekerja sama
3) Melakukan kejahatan remaja seperti telah melanggar hukum
b. Aspek emosional
1) Menimbulkan tekanan batin dan rasa cemas
2) Adanya rasa gelisah, malu, rendah diri, ketakutan, dan sangat sensitif atau perasa
3. Dampak Fisik/Kesehatan
Ditandai dengan adanya gangguan makan, gangguan tidur, dan gangguan gerakan. Sering merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada jasmaninya, mudah mendapat kecelakaan, merasa cemas terhadap kesehatannya, merasa seolah-olah sakit. Kelainan fisik lain
seperti gagap, buang air tidak terkendali, sering mengompol, dan jorok. Kelas sebaiknya dilengkapi dengan meja dan kursi yang kosntruksinya disesuaikan dengan kondisi kecacatan anak
5. Personel
Personel yang dibutuhkan dalam penyeleneggaraan pendidikan anak tunadaksa adalah sebagai berikut.
a. Guru yang berlatarbelakang pendidikan luar biasa
b. Guru yang memiliki keahlian khusus
c. Guru sekolah biasa
d. Dokter umum
e. Dokter ahli ortopedi
f. Neurolog
g. Ahli terapi lain
6. Evaluasi
Evaluasi belajar dilakukan sesuai dengan berat ringannya kelainan.
Kegiatan Belajar 4
Kebutuhan Khusus Dan Profil Pendidikan Anak Tunalaras
A. Kebutuhan Khusus Anak Tuna Laras
1. Kebutuhan penyesuaian lingkungan belajar
2. Kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan fisik, bakat, dan intelektualnya
3. Kebutuhan penguasaan keterampilan khusus
4. Kebutuhan rasa aman
5. Kebutuhan suasana yang tidak menambah rasa rendah diri dan rasa bersalah.
B. Profil Pendidikan Anak Tunalaras
1. Tujuan layanan
Mengurangi atau menghilangkan kondisi yang tidak menguntungkan, yang menimbulkan atau menambah adanya gangguan perilaku.
Kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak tuna laras
1. Lingkungan fisik kurang memenuhi persyaratan
2. Disiplin sekolah yang kaku dan tidak konsisten
3. Guru yang tidak simpatik sehingga situasi belajar tidak menarik
4. Kurikulum tidak sesuai kebutuhan anak
5. Metode dan teknik mengajar yang tidak mengaktifkan anak.
Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut harus dihindari agar tidak terjadi perkembangan kea rah penyimpangan perilaku dan kegagalan akademiknya.
2. Model / Strategi Pembelajaran
a. Model layanan
Kauffman (1985) mengemukakan jenis-jenis model pendekatan:
1) Model biogenetic
Dengan asumsi bahwa gangguan disebabkan oleh kecacatan genetic atau biokimiawi, sehingga untuk penyembuhan dengan pengobatan, diet, olahraga, operasi
2) Model behavioural (tingkah laku)
Dengan asumsi bahwa gangguan emosi merupakan indikasi ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga penanganannya pada lingkungan tempat anak belajar dan tinggal.
3) Model psikodinamika
Dengan asumsi perilaku yang menyimpang karena hambatan yang terjadi dalam proses perkembangan kepribadian. Penanganannya dengan pengajaran psikoedukasional, yaitu menggabungkan usaha membantu anak dalam mengekspresikan dan mengendalikan perasaannya.
4) Model ekologis
Menganggap kehidupan ini terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Gangguan terjadi karena disfungsi antara anak dan perilakunya sehingga perlu diupayakan interaksi yang baik antara anak dan lingkunganya.
b. Teknik Pendekatan
Beberapa teknik pendekatan dalam mengatasi masalah perilaku:
1. Perawatan dengan obat
2. Modifikasi perilaku
· Melalui operant conditioning (mengendalikan stimulus yang mengikuti respon). Langkah dalam memodifikasi perilaku :
a) Menjelaskan perilaku yang akan diubah
b) Menyediakan bahan yang menuntut anak harus diam
c) Mengatakan perilaku yang diterima
· Melalui Task Analysis, dilaksanakan dengan cara menata tujuan dan tugas dengan lengkapdan terperinci sehingga anak dapat melakukannya dalam jangka waktu tertentu dan memberikan pujian jika berhasil.
3. Strategi Psikodinamika
Tujuan untuk membantu anak menjadi sadar akan kebutuhannya, keinginan, dan
kekuatannya sendiri.
4. Strategi Ekologi
Pendukung teknik, mengasumsikan bahwa dengan diciptakannya lingkungan yang baik, maka perilaku anak akan baik pula.
3. Tempat Layanan
a. Tempat khusus (SLB-E)
Di sekolah ini kurikulumnya disesuaikan dengan keadaan anak tunalaras. Anak yang diterima biasanya yang mengalami gangguan sedang dan berat.
b. Di Sekolah Inklusi
Jenis anak tunalaras yang bisa kita jumpai di sekolah umum yaitu hiperaktif, distrakbilitas, dan impulsitas.
1) Hiperaktif (dimensi anak yang bertingkah laku kacau/ conduct disorder)
Ciri-ciri anak hiperaktif
a) Gerakannya terlalu aktif, tidak bertujuan, tidak mau diam sepanjang hari,
b) Suka mengacau teman-teman sebayanya
c) Sulit memperhatikan dengan baik
Penyebab hiperaktif : disfungsi otak, kekurangan oksigen, kecelakaan fisik, keracunan serbuk timah, minuman keras dan obat terlarang ketika hamil, dll.
Teknik penanganan hiperaktif dengan medikasi (obat-obat perangsang saraf), diet (berpantang makanan tertentu), modifikasi tingkah laku, lingkungan yang terstrukur, modelling, biofeedback (memberi informasi kepada anak mengenai kondisi perilaku dan tubunya).
2) Distrakbilitas
Merupakan gangguan dalam perhatian pada stimulus yang relevan secara efisien. Distrakbilitas dibagi 3 yaitu :
a) Short attention span dan frequent attention shifts (ketidakmampuan memusatkan perhatian dalam waktu lama )
b) Underselection attention, tidak mampu membedakan stimulus yang relevan dengan yang tidak relevan
c) Overselective attention, terlalu selektif dalam memberi perhatian sehingga hal-hal yang relevan mejadi tertinggal.
Cara memberikan layanan kepada anak distrakbilitas :
1) Lingkungan yang terstruktur dan stimulus yang terkendali
2) Modifikasi tingkah laku
3) Impulsivitas
Seseorang dikatakan impulsive jika cenderung mengikuti kemauan hatinya dan terbiasa bereaksi cepat tanpa berpikir panjang dalam situasi social maupun tugas- tugas akademik. Impulsive dapat disebabkan oleh faktor keturunan, cemas, faktor budaya, disfungsi saraf, perilaku yang dipelajari dari lingkungan.
Metode mengendalikan impulsive:
a) Melatih verbalisasi
b) Modifikasi tingkah laku
c) Mengajarkan seperangkat keterampilan kepada anak
d) Berdiskusi antara guru dan anak
e) Wawancara dengan anak
4. Sarana
Sarana pendidikan pada dasarnya tidak berbeda dengan sarana pendidikan biasa (sekolah regular). Ditambah ruangan khusus konsultasi pskikologi, ruang BK, ruang pemeriksaan kesehatan, ruangan terapi fisik.
5. Personil
Dibutuhkan beberapa tenaga professional : guru yang berpengalaman dan matang kepribadiannya, psikolog, konselor, psikiater, neurologi, dan pekerja social.
6. Evaluasi
Evaluasi yang berkaitan dengan prestasi belajar dan evaluasi kesehatan mentalnya (diobservsi secara terus menerus).
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar