Modul 12 Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4502

Gambar
  Modul 12 Merancang Kegiatan Pembelajaran Kb. 2 Metode Mengajar dan Prosedur Pembelajaran A.       Metode Mengajar Metode mengajar adalah suatu cara yang dilakukan guru untuk menciptakan hubungan antara guru (kegiatan mengajar) dan siswa (kegiatan belajar). Media pembelajaran merupakan sarana yang dapat menunjang optimalisasi kegiatan mengajar guru dan kegiatan belajara siswa. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menimbulkan dan memudahkansiswa belajar. Empat metode yang seringkali digunakan dalam kegiatan belajar mengajar adalah : 1.        Metode Ceramah Metode ceramah adalah metode atau cara mengajar denga penyajian materi yang dilakukan melalui penuturan dan penjelasansecara lisan ole guru kepada siswa. 2.        Metode Tanya awab Metode tanya jawab adalah suatu cara atau metode penyajian bahan pelajaran melalui berbgai bentuk pertanyaan yang dijawab oleh siswa. 3. ...

Modul 2 Startegi Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4105

 


MODUL 2 PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR 

 

 

 

Dalam Modul ini, Anda akan mempelajari karakteristik belajar siswa Sekolah Dasar.

Setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda mampu :

a.   menjelaskan pengertian belajar;

 b.    menjelaskan hakikat belajar;

c.         mengidentifikasi karakteristik belajar di Sekolah Dasar;

d.        menjelaskan tahapan perkembangan anak Sekolah Dasar;

e.         menjelaskan kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar.

 

 

Agar proses belajar efektif, guru harus memahami bahwa tugas dan peranannya dalam mengajar harus berfungsi sebagai pembimbing, fasilitator, dan nara sumber atau pemberi informasi. Proses belajar bergantung pada pandangan guru terhadap makna belajar, karena semua aktivitas siswa dalam belajar selalu berdasaran  skenario  yang  dikembangkan  oleh guru. Pandangan guru terhadap belajar selalu berkaitan dengan makna dan operasionalisasi tugas mengajar. Pandangan mengajar yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan dan hakikat belajar saat ini adalah bahwa mengajar merupakan suatu proses membimbing, memberikan informasi dan mengatur lingkungan sehingga terjadi proses belajar yang efektif.

 

Untuk membantu Anda mendapatkan semua kemampuan tersebut, dalam modul ini akan disajikan pembahasan dan contoh mengenai :

a.  pengertian belajar;

 b.   karakteristik belajar di Sekolah Dasar;

c.         tahapan perkembangan anak Sekolah Dasar;

d.        kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar.


MODUL 2 PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

 

Kegiatan Belajar 1 Pengertian Belajar

 

Untuk mencapai target kurikulum yang telah ditetapkan, guru harus berupaya menerapkan kurikulum secara maksimal dan efektif.  Kegiatan  yang  paling  menentukan dalam keberhasilan penerapan kurikulum adalah proses pembelajaran atau kegiatan belajar. Belajar merupakan suatu proses yang harus ditempuh siswa, tetapi esensi dan hakikatnya harus dipahami oleh guru agar dalam pelaksanaannya guru dapat  mengelola  dan membinmbing proses pembelajaran sesuai dengan kaidah-kaidah belajar yang efektif. Di samping itu, guru akan dapat menciptakan kondisi dan suasana belajar yang optimal dalam rangka mendukung proses guna mencapai hasil belajar yang diharapkan. Oleh karena itu, guru perlu belajar memahami hakikat belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dan ciri-ciri perubahan yang disebabkan oleh belajar.

 

A.  Pengertian Belajar

Pendapat  modern  yang  muncul  pada  abad  19  menganggap  bahwa  belajar  adalah

 proses perubahan tingkah laku (a change in behavior ). Ernest R. Hilgard (1948) menyatakan

 bahwa learning is the process by which an activity or is changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural environment ) as distinguished from changes by factors not atrisutable to training. Jadi, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan dan perubahan itu disebabkan karena ada dukungan dari lingkungan yang positif yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif. Perubahan tersebut terjadi secara menyeluruh meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan.

 

Pendapat lain mengemukakan bahwa belajar adalah proses pengalaman ( learning is experience), artinya belajar itu suatu proses interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dalam interaksi tersebut terjadi prose mental, intelektual, dan emosional yang pada akhirnya menjadi suatu sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dimilikinya.


Contohnya adalah seseorang yang belajar badminton. Ia akan melakukan latihan mengayunkan raket dengan cara memegang yang benar, menepuk bola,  backhand  dan forehand yang merupakan pengalaman belajar. Pengalaman belajar lainnya meliputi :

a.         Bagaimana cara-cara ia menentukan arah pukulan? Dalam hal ini ia (yang dilatih) harus berpikir, berkonsentrasi, dan memvisualisasikan diri ke dalam perbuatan dan mencobakannya ke dalam bentuk latihan.

 b.   Bagaimana cara-cara ia belajar menerima kritikan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya? Ia akan mengontrol perasaan, dan kemudian melakukan perbaikan-

 perbaikan sesuai isi kritik yang diberikan padanya.

c.         Bagaimana ia memperoleh pemahaman prinsip dan sikap yang dibutuhkan? Ia akan mengalami peristiwa-peristiwa dalam situasi yang tidak dapat diramalkan sebelumnya dan dari situ ia memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan (bersifat reaktif) yang dibutuhkannya.

d.        Bagaimana ia belajar membina kekkompakan dalam kelompok? Tentunya ia akan

 berdiskusi dengan teman dan kelompoknya, menempatkan posisi, melakukan tugas, dan tanggung jawab.

 

Definisi belajar yang umum diterima saat ini ialah bahwa belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkat laku yang baru, secara keseluruhan sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

 

B.  Hakikat Belajar

Ada 4 pilar yang perlu diperhatikan dalam belajar yaitu learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be.

 Learning to  know  artinya  belajar  untuk  mengetahui;  yang  menjadi  target  dalam

 belajar adalah adanya proses pemahaman sehingga belajar tersebut dapat mengantarkan siswa untuk mengetahui dan memahami substansi materi yang dipelajarinya.

 Learning to do  artinya belajar untuk berbuat; yang menjadi target  dalam  belajar adalah proses melakukan atau proses berbuat. Dalam hal ini siswa harus mengerjakan, menerapkan, menyelesaikan persoalan, melakukan eksperimen, penyelidikan, penemuan,

 pengamatan, simulasi dan sejenisnya.


 Learning to live together artinya belajar untuk hidup bersama; yang menjadi target dalam belajar adalah siswa memiliki kemampuan untuk hidup bersama atau mampu hidup dalam kelompok.

 Learning to be  artinya belajar untuk menjadi; yang menjadi target belajar adalah mengantarkan siswa menjadi individu yang utuh sesuai dengan potensi, bakat, minat dan kemampuannya.

 

C.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dalam dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu faktor dalam diri siswa sendiri (intern) dan faktor dari luar diri siswa (ekstern).

a.         Faktor dari dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar  diantaranya adalah kecakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan dan kesehatan, serta kebiasaan siswa. Setiap individu memiliki kecakapan (ability) yang berbeda-

 beda. Kecakapan tersebut dapat  dikelompokkan  berdasarkan  kecepatann  belajar; yakni sangat cepat, sedang dan lambat. Demikian pula pengelompokan kemampuan siswa berdasarkan kemampuan penerimaan, misalnya proses pemahamannya harus dengan cara perantara visual, verbal, dan atau harus dibantu dengan alat / media.

 b. Faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah lingkungan fisik dan nonfisik (termasuk suasana kelas dalam belajar, seperti riang gembira, menyenangkan), lingkungan sosial budaya, lingkungan keluarga, program sekolah (termasuk dukungan komite sekolah), guru, pelaksanaan pembelajaran, dan teman sekolah. Guru merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap proses maupun hasil belajar, sebab guru merupakan manajer atau sutradara dalam kelas.

 

 

 

Kegiatan Belajar 2 Karakteristik Proses Belajar Dan Tahapan

Perkembangan Siswa Sekolah Dasar

 

 

Proses belajar merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar dalam belajar, esensinya adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan siswa dalam upaya mengubah prilaku  yang dilakukan secara sadar melalui interaksi dengan lingkungan. Proses belajar mengajar di


sekolah sangat dipengaruhi oleh desain pelajaran maupun strategi yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran.

Salah  satu  faktor  yang  dominan  untuk  dipertimbangkan  dalam  melakukan  proses

 belajar adalah pebelajar (siswa) itu sendiri. Siswa merupakan individu yang utuh sekaligus sebagai  makhluk  sosial  yang  memiliki  potensi  yang  berbeda-beda.  Berdasarkan  teori

 perkembangan setiap siswa memiliki tahapan perkembangan sesuai dengan tingkat usianya. Artinya   setiap   proses   belajar   yang   ditempuh   siswa   harus   berdasarkan   pada   fase

 perkembangannya.

Seperti telah dikemukakan, bahwa proses belajar merupakan rangkaian aktivitas siswa melalui pengalaman belajar (learning experience) untuk membentuk perilaku siswa.

 

A.      Karakteristik Proses Belajar di Sekolah Dasar

1.        Proses Belajar Berdasarkan Teori dan Tipe Belajar

Belajar merupakan suatu kegiatan pemrosesan kognitif, keterampilan dan sikap. Pebelajar (siswa) sepenuhnya harus melakukan upaya mengubah perilaku melalui pengalaman, latihan maupun kegiatan-kegiatan lain yang dianggap efektif sebagai proses untuk mengubah perilaku.

a.         Teori Belajar

Ada beberapa belajar yang dikaji sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan

 proses belajar di Sekolah Dasar

1)        Teori Belajar Displin Mental

Karakteristik teori belajar ini menganut prinsip bahwa manusia memiliki sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggapi, mengingat, berpikir dan sebagainya yang dapat dilatih dan  didisplinkan.  Proses  belajar  berpikir, mengamati dan mengingat dapat dilakukan siswa SD kelas rendah, yang meliputi a) belajar mengidentifikasi ciri-ciri karakteristik suatu benda atau kejadian, misalnya; “menguraikan atau menjelaskan ciri-ciri tumbuhan hijau”. b) menyebutkan kembali nama-nama ibu kota provinsi di Indonesia.  Belajar  itu sendiri merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki individu. Potensi-potensi yang dimiliki individu dapat dikembangkan  secara optimal melalui kegiatan belajar.

2)        Teori Belajar Asosiasi

Rumpun teori belajar ini identik dengan teori behaviorisme yang biasa disebut S- R Bond. Teori belajar asosiasi ini berdasarkan pada perubahan tingkah laku yang


menekankan pola perilaku baru yang diulang-ulang sehingga menjadi aktivitas yang otomatis. Dalam teori ini, belajar lebih mengutamakan stimulus-respons yang membetuk kemampuan siswa secara spesifik dan terkontrol. Hukuman ( punishment ) dan ganjaran (reward ) merupakan penguatan (reinforcement ) yang dipakai. Pelopor aliran ini diantaranya Edward L. Thorndike.

3)       Teori Insight

Menurut teori ini belajar adalah mengubah pemahaman siswa. Perubahan ini akan terjadi apabila siswa menggunakan lingkungan. Belajar adalah suatu proses yang

 bersifat eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Belajar selalu diarahkan untuk mengembangkan kemampuan tingkat tinggi yaitu berpikir tinggi.

4)          Teori belajar Gestalt

Menurut teori belajar ini siswa merupakan individu yang utuh. Oleh karenanya,

 belajar lebih mengutamakan keseluruhan, kemudia melihat bagian-bagiannya yang mengandung makna dan hubungan. Pembelajaran selalu diberikan dalam

 bentuk problematik, aktual dan nyata (sedang terjadi saat ini maupun saat yang akan datang).

Siswa belajar melakukan pemecahan masalah (problem solving), melakukan penyelidikan (inquiry), melakukan penemuan (discovery) dan kajian (investigation).

Dalam prakteknya penerapan teori belajar tersebut digunakan bercampur, tidak murni satu per satu.

 b.    Tipe Belajar

Untuk mencapai proses dan hasil belajar yang optimal kita perlu mengenal beberapa tipe belajar yang dikemukakan Gagne (1970). Menurut Gagne ada 8 tipe belajar yang dapat dilakukan siswa, yaitu :

1)           Signal learning (belajar melalui isyarat)

Belajar isyarat merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk perilaku melalui sinyal atau isyarat sehingga terbentuk sikap tertentu, tetapi respons yang ditimbulkan dapat bersifat umum, tidak jelas bahkan emosional.

2.        Stimulus-respon learning (belajar melalui rangsangan tindak balas).

Belajar stimulus-respons  merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk

 perilaku melalui pengkondisian stimulus untuk menghasilkan suatu tindak-balas (respons).

3.        Chaining learning (belajar melalui perangkaia


Belajar chaining  merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk perilaku melalui beberapa stimulus-respons (S-R) yang berangkai; dalam bahasa contohnya “Ibu-Bapak”, “kampung-halaman”. Chaining contoh; dari pulang tugas mengajar,

 buka sepatu, menyimpan tas, ganti baju, makan dan seterusnya.

4)        Verbal association learning (belajar melalui perkaitan verbal)

Belajar verbal association merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk

 perilaku melalui perkaitan verbal. Perkaitan ini bisa dimulai dari yang sederhana.

5)      Discrimination learning (belajar melalui membeda-bedakan)

Tipe belajar ini dapat membentuk prilaku melalui proses membeda-bedakan objek yang abstrak maupun konkret. Sesuatu yang berkaitan dengan ruang, bentuk,

6)        Concept learning (belajar melalui konsep)

Tipe belajar ini dapat membentuk prilaku melalui pemahaman terhadap sesuatu

 benda, peristiwa, kategori, golongan dan suatu kelompok. Yang dimaksud konsep itu sendiri adalah karakteristik, atribut atau definisi sesuatu objek. Konsep yang konkret dapat ditunjukkan bendanya sedangkan konsep yang  abstrak  adalah konsep menurut definisi.

7)      Rule learning (belajar melalui aturan-aturan)

Tipe belajar ini dapat membentuk prilaku melalui aturan. Belajar melalui aturan merupakan proses belajar yang membentuk kemampuan siswa supaya memahami aturan-aturan dan mampu menerapkannya. Belajar melalui aturan berarti belajar melalui dalil-dalil, rumus-rumus, dan ketentuan.

8)      Problem solving learning (belajar melalui pemecahan masalah)

Tipe belajar ini dapat membentuk prilaku melalui kegiatan pemecahan masalah. Tipe belajar ini merupakan belajar yang dapat membentuk siswa berpikir ilmiah dan kritis yang termasuk pada belajar yang menggunakan pemikiran  atau intelektual tinggi.

c.   Hasil Belajar

Hasil  belajar  merupakan  kulminasi  dari  suatu  proses  yang  telah  dilakukan  dalam

 belajar. Kulminasi akan selalui diiringi dengan kegiatan tindak lanjut. Hasil belajar harus menunjukkan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif, dan disadari. Bentuk perubahan tingkah   laku   harus   menyeluruh   secara   komperhensif   sehingga   menunjukkan

 perubahan tingkah laku seperti contoh di atas.


Untuk melihat hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah

 pada siswa Sekolah Dasar, dapat dikaji proses maupun hasil berdasarkan : 1) kemampuan membaca, mengamati dan atau menyimak apa yang dijelaskan atau diinformasikan; 2) kemampuan mengindentifikasi atau membuat sejumlah (sub-sub) pertanyaan berdasarkan substansi yang dibaca, diamati dan atau didengar; 3) kemampuan mengorganisasi hasil- hasil identifikasi dan mengkaji dari sudut persamaan dan perbedaan; dan 4) kemampuan melakukan kajian secara menyeluruh.

 

B.       Tahapan Perkembangan Siswa Sekolah Dasar

Siswa Sekolah Dasar merupakan individu unik yang memiliki karakteristik tertentu, bersifat khas dan spesifik. Pada dasarnya setiap siswa adalah individu yang

 berkembang. Perkembangan siswa akan dinamis sepanjang hayat mulai dari kelahiran sampai akhir hayat. Dalam hal in pendidikan maupun pembelajaran sangat dominan memberikan kontribusi untuk membantu dan mengarahkan perkembangan siswa supaya menjadi positif dan optimal. Setiap siswa memiliki irama dan kecepatan perkembangan yang berbeda-beda dan bersifat individual.

Perkembangan  siswa  Sekolah  Dasar  usia  6  –  12  tahun  yang  termasuk  pada

 perkembangan masa pertengahan (middle childhood ) memiliki fase-fase yang unik dalam

 perkembangannya yang menggambarkan peristiwa penting bagi siswa yang bersangkutan. Tahapan perkembangan siswa dapat dilihat dari aspek perkembangan berikut.

1.           Perkembangan Fisik

Perkembangan  ini   berkaitan   dengan   perkembangan   berat,   tinggi   badan,   dan

 perkembangan motorik. Siswa pada tingkat Sekolah  Dasar,  kemampuan  motoriknya mulai lebih halus dan terarah (refined motor skills), tetapi berat badan siswa laki-laki lebih ramping daripada siswa perempuan karena masa adolesen perempuan lebih cepat daripada laki-laki.

2.           Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial siswa pada tingkat Sekolah Dasar sudah terasa ada pemisahan kelompok jenis kelamin ( separation of the sexs) sehingga dalam pengelompokkan, siswa lebih senang berkelompok berdasarkan jenis kelamin padahal kurang sesuai menurut kriteria pengelompokan belajar.


3.        Perkembangan Bahasa

Pada masa ini perkembangan bahasa siswa terus berlangsung secara dinamis. Dilihat dari cara siswa berkomunikasi menunjukkan bahwa mereka  sudah mampu menggunakan

 bahasa yang halus dan kompleks

4.           Perkembangan Kognitif

Di Sekolah Dasar siswa diajarkan berbagai disiplin ilmu bahkan cara-cara belajar baik yang berorientasi pada peningkatan berpikir logis maupun kemampuan  manipulatif. Siswa dapat melihat beberapa faktor dan mengkombinasikannya dengan berbagai cara untuk mecapai hasil yang sama.

Perkembangan kognitif pada siswa Sekolah Dasar berlangsung secara dinamis. Untuk menumbuhkembangkan kemampuan kognitif dalam fase konkret operasional pada siswa Sekolah Dasar, acuannya adalah terbentuknya hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema.

Piaget mengemukakan bahwa pada usia Sekolah Dasar siswa akan memiliki kemampuan

 berpikir operasional konkret (concrete operation) yang disebut sebagai masa performing operation.

5.        Perkembangan Moral

Perkembangan moral  yang  harus  dimiliki  siswa  Sekolah  Dasar  adalah  kemampuan

 bertindak menjadi orang baik. Tindakan yang dilakukan selalu berorientasi  pada orang lain yang dianggap berbuat baik. Bahkan siswa akan melakukan tindakan yang baik apabila orang lain merasa senang.

6.        Perkembangan Eksresif

Pola perkembangan ekspresif siswa Sekolah Dasar dapat dilihat dari kegiatan ungkapan

 bermain dan kegiatan seni (art) . Siswa Sekolah Dasar sudah menyadari aturan dari suatu

 permainan, bahkan siswa pada usia itu sudah mulai membina hobinya.

7.           Aspek-aspek Intelegensi

Dalam psikologi, teori Gardner (Utami Munandar, 1999; 265) membedakan jenis intelegensi. Dalam kehidupan sehari-hari itu tidak berfungsi dalam bentuk murni tetapi setiap individu memiliki campuran yang unik dari ketujuh intelegensi tersebut. Aspek- aspek intelegensi tersebut dapat ditumbuhkembangkan pada setiap siswa. Aspek intelegensi tersebut diantaranya adalah :

a.          Intelegensi linguistik , yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan bahasa, termasuk kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan kegunaan fungsi-fungsi

 bahasa.


 b.    Intelegensi logis-matematis, yaitu kemampuan untuk menjajaki pola-pola, kategori, dan hubungan-hubungan dengan manipulasi objek-objek atau simbol-simbol, dan kepekaan kemampuan berpikir logis.

c.          Intelegensi spasial , yaitu kemampuan untuk mengamati  secara  mental, memanipulasi bentuk dan objek; atau kemampuan mempersepsi dunia ruang visual secara akurat dan melakukan transformasi persepsi tersebut.

d.         Intelegensi musik,  yaitu kemampuan untuk menikmati, mempertunjukkan atau mengubah musik termasuk kemampuan menghasilkan dan mengekpresikan  ritme nada dan bentuk-bentuk ekspresi musik.

e.          Intelegensi fisik-kinestetik,  yaitu kemampuan untuk menggunakan keterampilan motorik halus dan kasar dan halus dalam olah raga seni dan produk-produk seni

 pertunjukan serta keterampilan meliputi kemampuan mengontrol gerakan tubuh dan menangani objek-objek secara terampil.

f.           Intelegensi  intrapribadi,  yaitu  kemampuan  untuk  memperoleh  akses  terhadap

 pemahaman perasaan, impian dan gagasan-gagasan diri sendiri, dan memahami kekuatan maupun kelemahan diri sendiri.

g.         Intelegensi interpribadi, yaitu suatu kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain, serta memahami  hubungan dengan orang lain.

8.           Aspek Kebutuhan Siswa

Selain aspek perkembangan siswa yang telah dikemukakan di atas juga perlu dipertimbangkan aspek kebutuhan siswa sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan materi apa yang akan dipelajari siswa. Secara umum ada dua kebutuhan siswa : 1) psiko-

 biologis yang dinyatakan dalam keinginan, minat, tujuan, harapan dan masalahnya; 2) sosial  yang  berkaitan  dengan  tuntutan  lingkungan  masyarakat,  biasanya  menurut

 pandangan orang dewasa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Modul 9 Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4502

Modul 10 Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4502

Modul 7 Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4407