Modul 2 Startegi Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4105
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
MODUL 2 PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
Dalam Modul ini, Anda akan mempelajari karakteristik belajar siswa Sekolah
Dasar.
Setelah mempelajari modul ini diharapkan
Anda mampu :
a. menjelaskan pengertian
belajar;
b. menjelaskan hakikat
belajar;
c.
mengidentifikasi karakteristik belajar di Sekolah Dasar;
d.
menjelaskan tahapan
perkembangan anak Sekolah Dasar;
e.
menjelaskan kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar.
Agar proses
belajar efektif, guru harus memahami bahwa tugas dan peranannya dalam mengajar
harus berfungsi sebagai
pembimbing, fasilitator, dan nara sumber atau pemberi
informasi. Proses belajar bergantung pada pandangan guru terhadap makna
belajar, karena semua aktivitas
siswa dalam belajar
selalu berdasaran skenario
yang dikembangkan oleh guru.
Pandangan guru terhadap belajar selalu berkaitan dengan makna dan
operasionalisasi tugas mengajar.
Pandangan mengajar yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan dan hakikat
belajar saat ini adalah bahwa mengajar merupakan
suatu proses membimbing, memberikan informasi dan mengatur lingkungan sehingga terjadi proses belajar yang efektif.
Untuk membantu Anda mendapatkan semua kemampuan tersebut,
dalam modul ini akan disajikan
pembahasan dan contoh
mengenai :
a. pengertian belajar;
b. karakteristik belajar di Sekolah Dasar;
c.
tahapan perkembangan anak Sekolah Dasar;
d.
kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar.
MODUL 2 PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
Kegiatan Belajar 1
Pengertian Belajar
Untuk mencapai
target kurikulum yang telah ditetapkan, guru harus berupaya
menerapkan kurikulum secara maksimal dan efektif. Kegiatan
yang paling menentukan
dalam keberhasilan penerapan kurikulum adalah proses pembelajaran atau
kegiatan belajar. Belajar merupakan
suatu proses yang harus ditempuh
siswa, tetapi esensi
dan hakikatnya harus dipahami oleh guru agar dalam pelaksanaannya guru dapat mengelola
dan membinmbing proses pembelajaran sesuai dengan kaidah-kaidah belajar yang efektif.
Di samping itu, guru akan
dapat menciptakan kondisi dan suasana belajar yang optimal dalam rangka
mendukung proses guna mencapai hasil belajar yang diharapkan. Oleh karena itu, guru
perlu belajar memahami hakikat belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar dan ciri-ciri perubahan yang disebabkan oleh belajar.
A. Pengertian Belajar
Pendapat modern yang muncul
pada
abad
19
menganggap
bahwa
belajar
adalah
proses perubahan
tingkah laku (a change in behavior ). Ernest R. Hilgard
(1948) menyatakan
bahwa
learning is the process by which an activity or is changed through training
procedures (whether in the laboratory or in the natural environment ) as
distinguished from changes by factors not atrisutable to training. Jadi, belajar merupakan
proses perubahan tingkah
laku yang diperoleh
melalui latihan dan perubahan itu disebabkan karena ada dukungan
dari lingkungan yang positif
yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif. Perubahan tersebut terjadi
secara menyeluruh meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Pendapat
lain mengemukakan bahwa belajar adalah proses pengalaman ( learning is experience),
artinya belajar itu suatu proses interaksi antara individu dengan
lingkungannya. Dalam interaksi
tersebut terjadi prose mental, intelektual, dan emosional yang pada akhirnya menjadi
suatu sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dimilikinya.
Contohnya adalah seseorang yang belajar badminton. Ia akan melakukan
latihan mengayunkan raket dengan cara memegang yang benar, menepuk
bola, backhand dan forehand yang merupakan pengalaman belajar. Pengalaman belajar lainnya meliputi
:
a.
Bagaimana cara-cara ia menentukan arah pukulan? Dalam
hal ini ia (yang dilatih)
harus berpikir, berkonsentrasi, dan memvisualisasikan diri ke dalam
perbuatan dan mencobakannya ke dalam bentuk
latihan.
b. Bagaimana cara-cara ia belajar menerima
kritikan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya? Ia akan mengontrol perasaan, dan kemudian
melakukan perbaikan-
perbaikan sesuai isi kritik yang diberikan padanya.
c.
Bagaimana ia
memperoleh pemahaman prinsip dan sikap yang dibutuhkan? Ia akan mengalami peristiwa-peristiwa dalam
situasi yang tidak dapat diramalkan sebelumnya
dan dari situ ia memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan (bersifat
reaktif) yang dibutuhkannya.
d.
Bagaimana ia belajar membina
kekkompakan dalam kelompok?
Tentunya ia akan
berdiskusi dengan teman dan kelompoknya, menempatkan posisi, melakukan tugas,
dan tanggung jawab.
Definisi
belajar yang umum diterima saat ini ialah bahwa belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkat laku yang baru, secara keseluruhan sebagai
pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
B. Hakikat Belajar
Ada 4 pilar yang perlu diperhatikan dalam belajar yaitu learning to know, learning
to do, learning to live together, dan learning to be.
Learning to know artinya belajar untuk mengetahui;
yang
menjadi
target
dalam
belajar adalah adanya proses pemahaman sehingga
belajar tersebut dapat mengantarkan siswa untuk mengetahui dan memahami substansi materi yang dipelajarinya.
Learning to do artinya belajar untuk berbuat; yang menjadi target
dalam belajar adalah proses melakukan
atau proses berbuat.
Dalam hal ini siswa harus mengerjakan, menerapkan, menyelesaikan persoalan, melakukan
eksperimen, penyelidikan, penemuan,
pengamatan, simulasi
dan sejenisnya.
Learning to live together artinya belajar untuk hidup bersama;
yang menjadi target dalam belajar
adalah siswa memiliki kemampuan untuk hidup bersama atau mampu hidup dalam kelompok.
Learning to
be artinya belajar
untuk menjadi; yang menjadi target belajar adalah mengantarkan
siswa menjadi individu yang utuh sesuai dengan potensi, bakat, minat dan kemampuannya.
C.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Keberhasilan
belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dalam dikelompokkan menjadi
dua kelompok yaitu faktor dalam diri siswa sendiri (intern)
dan faktor dari luar diri siswa (ekstern).
a.
Faktor dari dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap
hasil belajar diantaranya
adalah kecakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan
dan kesehatan, serta kebiasaan siswa. Setiap individu
memiliki kecakapan (ability) yang berbeda-
beda. Kecakapan
tersebut dapat dikelompokkan
berdasarkan kecepatann belajar; yakni
sangat cepat, sedang dan lambat. Demikian pula pengelompokan kemampuan siswa berdasarkan kemampuan
penerimaan, misalnya proses pemahamannya harus dengan cara perantara visual, verbal, dan atau harus dibantu dengan alat / media.
b. Faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah lingkungan
fisik dan nonfisik (termasuk suasana kelas dalam belajar, seperti riang gembira, menyenangkan), lingkungan sosial
budaya, lingkungan keluarga, program sekolah
(termasuk dukungan komite sekolah), guru, pelaksanaan pembelajaran, dan teman sekolah. Guru merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap
proses maupun hasil belajar, sebab guru merupakan
manajer atau sutradara
dalam kelas.
Kegiatan Belajar 2 Karakteristik Proses Belajar Dan Tahapan
Perkembangan Siswa Sekolah
Dasar
Proses
belajar merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar dalam belajar, esensinya adalah rangkaian aktivitas
yang dilakukan siswa dalam upaya mengubah prilaku
yang dilakukan secara sadar melalui interaksi dengan lingkungan. Proses belajar mengajar
di
sekolah sangat dipengaruhi oleh desain pelajaran
maupun strategi yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran.
Salah satu faktor yang dominan
untuk
dipertimbangkan
dalam
melakukan
proses
belajar adalah pebelajar (siswa)
itu sendiri. Siswa merupakan individu
yang utuh sekaligus sebagai makhluk sosial yang
memiliki
potensi
yang
berbeda-beda.
Berdasarkan
teori
perkembangan setiap siswa memiliki
tahapan perkembangan sesuai
dengan tingkat usianya.
Artinya setiap proses
belajar
yang
ditempuh siswa
harus
berdasarkan pada
fase
perkembangannya.
Seperti telah dikemukakan, bahwa proses belajar
merupakan rangkaian aktivitas
siswa melalui pengalaman belajar (learning experience) untuk membentuk perilaku siswa.
A.
Karakteristik Proses
Belajar di Sekolah
Dasar
1.
Proses Belajar Berdasarkan Teori dan Tipe Belajar
Belajar merupakan suatu
kegiatan pemrosesan kognitif, keterampilan dan sikap. Pebelajar (siswa)
sepenuhnya harus melakukan
upaya mengubah perilaku
melalui pengalaman, latihan
maupun kegiatan-kegiatan lain yang dianggap
efektif sebagai proses untuk mengubah
perilaku.
a.
Teori Belajar
Ada beberapa belajar
yang dikaji sebagai
bahan pertimbangan dalam pelaksanaan
proses belajar di Sekolah Dasar
1)
Teori Belajar Displin Mental
Karakteristik teori belajar ini
menganut prinsip bahwa manusia memiliki sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggapi, mengingat,
berpikir dan sebagainya yang dapat dilatih
dan didisplinkan. Proses belajar
berpikir, mengamati
dan mengingat dapat
dilakukan siswa SD kelas rendah,
yang meliputi a) belajar mengidentifikasi ciri-ciri karakteristik suatu benda atau kejadian, misalnya;
“menguraikan atau menjelaskan ciri-ciri tumbuhan hijau”.
b) menyebutkan kembali
nama-nama ibu kota provinsi di Indonesia. Belajar
itu sendiri merupakan
upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki
individu. Potensi-potensi yang dimiliki individu
dapat dikembangkan secara optimal melalui
kegiatan belajar.
2)
Teori Belajar Asosiasi
Rumpun teori belajar
ini identik dengan
teori behaviorisme yang biasa disebut
S- R Bond. Teori belajar
asosiasi ini berdasarkan pada perubahan tingkah
laku yang
menekankan pola perilaku baru yang
diulang-ulang sehingga menjadi aktivitas yang otomatis. Dalam teori ini, belajar lebih
mengutamakan stimulus-respons yang
membetuk kemampuan siswa secara spesifik dan terkontrol. Hukuman ( punishment ) dan ganjaran (reward ) merupakan
penguatan (reinforcement ) yang dipakai. Pelopor aliran ini diantaranya Edward
L. Thorndike.
3)
Teori
Insight
Menurut teori ini belajar adalah mengubah pemahaman siswa.
Perubahan ini akan terjadi apabila
siswa menggunakan lingkungan. Belajar adalah suatu proses yang
bersifat eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Belajar
selalu diarahkan untuk mengembangkan kemampuan tingkat tinggi yaitu berpikir tinggi.
4)
Teori
belajar Gestalt
Menurut teori belajar
ini siswa merupakan
individu yang utuh. Oleh karenanya,
belajar lebih mengutamakan keseluruhan, kemudia melihat
bagian-bagiannya yang mengandung makna dan hubungan.
Pembelajaran selalu diberikan
dalam
bentuk problematik, aktual
dan nyata (sedang
terjadi saat ini maupun saat yang akan datang).
Siswa
belajar melakukan pemecahan
masalah (problem solving),
melakukan penyelidikan (inquiry), melakukan penemuan
(discovery) dan kajian
(investigation).
Dalam
prakteknya penerapan teori belajar tersebut
digunakan bercampur, tidak
murni satu per satu.
b. Tipe Belajar
Untuk mencapai proses dan hasil belajar
yang optimal kita perlu mengenal beberapa tipe
belajar yang dikemukakan Gagne (1970). Menurut Gagne ada 8 tipe belajar yang dapat dilakukan siswa, yaitu :
1)
Signal learning (belajar
melalui isyarat)
Belajar isyarat merupakan suatu tipe
belajar yang dapat membentuk perilaku melalui
sinyal atau isyarat sehingga terbentuk sikap tertentu, tetapi respons yang ditimbulkan dapat bersifat umum, tidak jelas bahkan emosional.
2.
Stimulus-respon learning (belajar melalui rangsangan tindak balas).
Belajar stimulus-respons merupakan suatu tipe belajar
yang dapat membentuk
perilaku melalui pengkondisian stimulus untuk menghasilkan suatu tindak-balas (respons).
3.
Chaining learning (belajar melalui perangkaia
Belajar chaining merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk
perilaku melalui beberapa stimulus-respons (S-R) yang
berangkai; dalam bahasa contohnya “Ibu-Bapak”, “kampung-halaman”. Chaining contoh; dari pulang tugas mengajar,
buka sepatu, menyimpan tas, ganti baju, makan dan seterusnya.
4)
Verbal association learning (belajar melalui perkaitan verbal)
Belajar verbal association merupakan suatu tipe belajar yang dapat membentuk
perilaku melalui perkaitan
verbal. Perkaitan ini bisa dimulai dari yang sederhana.
5)
Discrimination learning (belajar melalui
membeda-bedakan)
Tipe belajar ini dapat membentuk
prilaku melalui proses membeda-bedakan objek
yang abstrak maupun konkret. Sesuatu yang berkaitan
dengan ruang, bentuk,
6)
Concept learning (belajar melalui konsep)
Tipe belajar ini dapat membentuk
prilaku melalui pemahaman
terhadap sesuatu
benda,
peristiwa, kategori, golongan dan suatu kelompok. Yang dimaksud konsep itu sendiri adalah karakteristik, atribut
atau definisi sesuatu objek. Konsep yang konkret dapat ditunjukkan bendanya
sedangkan konsep yang
abstrak adalah konsep
menurut definisi.
7)
Rule learning (belajar melalui aturan-aturan)
Tipe belajar ini dapat
membentuk prilaku melalui aturan. Belajar melalui aturan merupakan proses belajar yang membentuk kemampuan siswa supaya
memahami aturan-aturan dan mampu
menerapkannya. Belajar melalui aturan berarti belajar melalui dalil-dalil, rumus-rumus, dan ketentuan.
8)
Problem solving learning (belajar melalui pemecahan masalah)
Tipe belajar ini dapat
membentuk prilaku melalui kegiatan pemecahan masalah. Tipe belajar ini merupakan belajar
yang dapat membentuk
siswa berpikir ilmiah
dan kritis yang termasuk pada belajar yang menggunakan pemikiran
atau intelektual tinggi.
c. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan kulminasi
dari
suatu
proses
yang
telah
dilakukan
dalam
belajar.
Kulminasi akan selalui diiringi dengan kegiatan tindak lanjut. Hasil belajar harus menunjukkan suatu perubahan tingkah
laku atau perolehan perilaku yang baru dari
siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif, dan disadari. Bentuk
perubahan tingkah laku
harus
menyeluruh secara
komperhensif sehingga menunjukkan
perubahan tingkah
laku seperti contoh
di atas.
Untuk melihat hasil
belajar yang berkaitan dengan kemampuan berpikir
kritis dan ilmiah
pada
siswa Sekolah Dasar, dapat dikaji proses maupun hasil berdasarkan : 1)
kemampuan membaca, mengamati dan atau
menyimak apa yang dijelaskan atau diinformasikan; 2) kemampuan mengindentifikasi atau membuat sejumlah (sub-sub)
pertanyaan berdasarkan substansi yang
dibaca, diamati dan atau didengar; 3) kemampuan mengorganisasi hasil- hasil identifikasi dan mengkaji dari sudut
persamaan dan perbedaan; dan 4) kemampuan melakukan kajian secara menyeluruh.
B.
Tahapan Perkembangan Siswa Sekolah
Dasar
Siswa
Sekolah Dasar merupakan individu unik yang memiliki karakteristik tertentu,
bersifat khas dan spesifik. Pada dasarnya setiap siswa adalah individu yang
berkembang.
Perkembangan siswa akan dinamis sepanjang hayat mulai dari kelahiran sampai akhir hayat. Dalam hal in pendidikan
maupun pembelajaran sangat dominan memberikan
kontribusi untuk membantu
dan mengarahkan perkembangan siswa supaya menjadi
positif dan optimal.
Setiap siswa memiliki
irama dan kecepatan perkembangan yang berbeda-beda dan bersifat individual.
Perkembangan siswa Sekolah Dasar usia
6 – 12 tahun yang termasuk pada
perkembangan masa pertengahan (middle childhood ) memiliki
fase-fase yang unik dalam
perkembangannya yang menggambarkan peristiwa penting bagi siswa yang
bersangkutan. Tahapan perkembangan siswa dapat dilihat dari aspek perkembangan berikut.
1.
Perkembangan Fisik
Perkembangan ini berkaitan dengan
perkembangan berat,
tinggi
badan,
dan
perkembangan motorik.
Siswa pada tingkat
Sekolah Dasar, kemampuan
motoriknya mulai lebih halus dan terarah (refined motor skills), tetapi
berat badan siswa laki-laki lebih ramping daripada siswa perempuan
karena masa adolesen perempuan lebih cepat daripada
laki-laki.
2.
Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial siswa pada tingkat Sekolah
Dasar sudah terasa ada pemisahan
kelompok jenis kelamin ( separation
of the sexs) sehingga dalam pengelompokkan, siswa lebih senang berkelompok berdasarkan jenis kelamin
padahal kurang sesuai menurut kriteria
pengelompokan belajar.
3.
Perkembangan Bahasa
Pada masa ini perkembangan bahasa siswa terus berlangsung
secara dinamis. Dilihat dari cara siswa
berkomunikasi menunjukkan bahwa mereka sudah mampu menggunakan
bahasa yang halus dan kompleks
4.
Perkembangan Kognitif
Di Sekolah Dasar siswa diajarkan berbagai
disiplin ilmu bahkan cara-cara belajar baik yang berorientasi pada peningkatan berpikir
logis maupun kemampuan
manipulatif. Siswa dapat
melihat beberapa faktor dan mengkombinasikannya dengan berbagai cara untuk mecapai hasil yang sama.
Perkembangan
kognitif pada siswa Sekolah Dasar berlangsung secara dinamis. Untuk menumbuhkembangkan kemampuan kognitif
dalam fase konkret operasional pada siswa Sekolah Dasar, acuannya adalah terbentuknya hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema.
Piaget mengemukakan bahwa pada usia Sekolah Dasar siswa akan memiliki kemampuan
berpikir operasional konkret
(concrete operation) yang disebut sebagai masa performing operation.
5.
Perkembangan Moral
Perkembangan moral
yang
harus
dimiliki
siswa
Sekolah
Dasar
adalah
kemampuan
bertindak menjadi orang baik. Tindakan yang
dilakukan selalu berorientasi pada orang lain yang dianggap
berbuat baik. Bahkan siswa akan melakukan tindakan
yang baik apabila
orang lain merasa senang.
6.
Perkembangan Eksresif
Pola perkembangan ekspresif
siswa Sekolah Dasar dapat dilihat
dari kegiatan ungkapan
bermain dan kegiatan seni (art) . Siswa Sekolah Dasar sudah menyadari aturan dari suatu
permainan, bahkan siswa pada usia itu sudah mulai membina hobinya.
7.
Aspek-aspek Intelegensi
Dalam
psikologi, teori Gardner
(Utami Munandar, 1999; 265) membedakan jenis intelegensi.
Dalam kehidupan sehari-hari itu tidak berfungsi dalam bentuk murni tetapi setiap individu memiliki campuran yang
unik dari ketujuh intelegensi tersebut. Aspek-
aspek intelegensi tersebut
dapat ditumbuhkembangkan pada setiap siswa. Aspek intelegensi tersebut diantaranya adalah :
a.
Intelegensi linguistik , yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan bahasa, termasuk
kepekaan terhadap suara,
ritme, makna kata-kata, dan kegunaan fungsi-fungsi
bahasa.
b. Intelegensi
logis-matematis, yaitu kemampuan untuk menjajaki pola-pola, kategori, dan hubungan-hubungan dengan manipulasi objek-objek atau simbol-simbol, dan kepekaan kemampuan
berpikir logis.
c.
Intelegensi spasial , yaitu kemampuan
untuk mengamati secara
mental, memanipulasi bentuk dan objek; atau
kemampuan mempersepsi dunia ruang visual secara akurat dan melakukan
transformasi persepsi tersebut.
d.
Intelegensi musik, yaitu
kemampuan untuk menikmati, mempertunjukkan atau mengubah
musik termasuk kemampuan
menghasilkan dan mengekpresikan ritme nada dan bentuk-bentuk ekspresi
musik.
e.
Intelegensi fisik-kinestetik, yaitu
kemampuan untuk menggunakan keterampilan motorik halus
dan kasar dan halus dalam olah raga seni dan produk-produk seni
pertunjukan serta keterampilan meliputi kemampuan mengontrol
gerakan tubuh dan menangani objek-objek secara terampil.
f.
Intelegensi
intrapribadi,
yaitu
kemampuan
untuk
memperoleh
akses
terhadap
pemahaman perasaan,
impian dan gagasan-gagasan diri sendiri, dan memahami kekuatan
maupun kelemahan diri sendiri.
g.
Intelegensi interpribadi, yaitu suatu kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana
hati, temperamen, dan motivasi orang lain, serta memahami hubungan dengan orang lain.
8.
Aspek Kebutuhan Siswa
Selain aspek perkembangan siswa yang telah dikemukakan di atas juga perlu dipertimbangkan aspek kebutuhan siswa
sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan materi apa yang akan dipelajari siswa. Secara umum ada dua kebutuhan siswa : 1) psiko-
biologis
yang dinyatakan dalam keinginan, minat, tujuan, harapan dan masalahnya; 2) sosial yang berkaitan dengan tuntutan
lingkungan
masyarakat,
biasanya
menurut
pandangan orang dewasa.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar