Modul 6 Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4407
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
MODUL 6
Pendidikan Khusus Anak Tunagrahita
Kegiatan
Belajar 1
Definisi, Klasifikasi, Penyebab,
dan Cara Pencegahan Tunagrahita
A. DEFINISI TUNAGRAHITA
1. Peristilahan
Dalam bahasa Indonesia istilah yang pernah digunakan
misalnya lemah otak, lemah ingatan,
lemah pikiran, retardasi mental, terbelakang mental, cacat grahita, dan
tunagrahita. Dalam bahasa asing
(Inggris) dikenal istilah mental
retardation, mental defiency, mentally handicapped,
feebleminded, mental subnormality (Moh. Amin, 1995:20). Istilah lain yang banyak digunakan adalah intellectually handicapped, intellectually disabled,
dan development mental disability.
Kata “mental” disini diartikan fungsi kecerdasan intelektual dan bukan kondisi
psikologis. Dari berbagai macam istilah diatas pada dasarnya sama semua
tertuju pada pengertian yang sama yaitu menggambarkan kondisi
terlambat dan terbatasnya perkembangan kecerdasan seseorang sedemikian rupa jika
dibandingkan dengan rata-rata atau anak pada umumnya
disertai dengan keterbatasan dalam perilaku penyesuaian. Kondisi ini berlangsung pada masa perkembangan, dan orientasi sampai sejauh mana individu
dalam membutuhkan jenis layanan atau penanganan khusus.
2. Pengertian
Secara luas dan menjadi rujukan utama
ialah definisi yang dirumuskan Grossman (1983)
yang secara resmi digunakan AAMD (American
Association on Mental Deficiency) sebagai berikut
:”ketunagrahitaan mengacu pada fungsi
intelektual umum yang secara nyata (signifikan) berada di bawah
rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian dan
berlangsung (terfermentasi) pada masa perkembangannya. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
a.
Fungsi intelektual umum secara
signifikan berada di bawah rata-rata, anak tunagrahita IQ paling tinggi 70.
b. Kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian (perilaku
adaptif).
c. Ketunagrahitaan berlangsung pada periode perkembangan.
Untuk dapat dikatakan tunagrahita seseorang harus memiliki
ketiga ciri-ciri tersebut.
Jika hanya memiliki
satu ciri-ciri maka belum bisa dikatakan sebagai
tunagrahita.
B. KLASIFIKASI ANAK TUNAGRAHITA
Pengklasifikasian ini pun bermacam-macam sesuai dengan
disiplin ilmu maupun perubahan
pandangan terhadap keberadaan anak tunagrahita. Klasifikasi yang sejak lama dikenal yaitu debil, imbesil, dan idiot,
sedangkan klasifikasi menurut kaum pendidik di
Amerika adalah educable mentally
retarded (mampu didik), trainable
mentally retarded (mampu latih) dan totally custodial
dependent (mampu rawat). Klasifikasi ini sudah jarang
digunakan.
Klasifikasi yang digunakan sekarang yang dikemukakan American Asociation on Mental
Defeciency (Hallahan, 1982: 43)
:
a.
Mild mental
retardation (tunagrahita ringan),
IQ: 70-75
b. Moderate mental retardation (tunagrahita sedang), IQ: 55-40
c. Severe mental retardation (tunagrahita berat), IQ: 40-25
d.
Profound
mental retardation (sangat berat), IQ: 25 ke bawah Klasifikasi yang digunakan di Indonesia sesuai PP 72 tahun 1991 :
1. Tunagrahita ringan
IQ nya 50-70
2. Tunagrahita sedang IQ nya 30-50
3. Tunagrahita berat dan sangat
berat IQ nya kurang
dari 30
Adapun pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani yang disebut tipe klinis yaitu:
1. Down Syndrome
(Mongoloid)
2. Kretin (Cebol)
3. Hydrocephalus
4. Microcephalus
5. Macrocephalus
Klasifikasi yang dikemukakan oleh AAMR 1992 menitikberatkan pada kebutuhannya
yaitu: 1) intermitten needs, bantuan
itu dibutuhkan secara berkala atau tidak selalu
membutuhkan bantuan; 2) limited needs,
sering membutuhkan bantuan; 3)extensive needs, yang membutuhkan bantuan dalam jangka lama dan bantuannya serius; dan 4) pervasive needs, kebutuhan bantuan sepanjang waktu.
C. PENYEBAB DAN CARA PENCEGAHAN KETUNAGRAHITAAN
1. Penyebab Ketunagrahitaan
a. Genetik dan Kromosom
b. Pada Prakelahiran
c. Pada saat Kelahiran
d. Selama Masa Perkembangan Anak-anak
dan Remaja
2. Usaha Pencegahan Ketunagrahitaan
a. Penyuluhan genetik
b. Diagnostik prenatal
c. Imunisasi
d. Tes darah
e.
Program keluarga berencana
f. Tindakan operasi
g. Sanitasi lingkungan
h.
Pemeliharaan kesehatan
i.
Intervensi dini
j. Diet sesuai dengan petunjuk ahli kesehatan
Kegiatan Belajar 2 Dampak Ketunagrahitaan
A.
DAMPAK KETUNAGRAHITAAN SECARA UMUM
1.
Dampak Terhadap Kemampuan Akademik
Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat
terbatas, apalagi yang berkaitan dengan hal
yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) dari pada dengan pengertian. Cenderung
menghindar dari perbuatan
berfikir, mengalami kesukaran memusatkan perhatian, lapang
minatnya sedikit, cenderung cepat lupa, sukar
membuat kreasi baru, dan rentang
perhatiannya pendek.
2.
Sosial/Emosional
a)
Ketidakmampuan untuk memahami
aturan sosial dan keluarga, sekolah serta masyarakat.
b) Tidak dapat mengurus diri,
memelihara dan memimpin
diri
c) Mudah terperosok ke dalam tingkah
laku yang kurang
baik
d)
Cenderung bergaul atau bermain
bersama dengan anak yang lebih muda darinya
e)
Kehidupan penghayatannya terbatas, tidak mampu menyatakan rasa bangga/kagum
f)
Kepribadian kurang dinamis, mudah
goyah, kurang menawan, dan tidak berpandangan
luas
g)
Mudah disugesti atau dipengaruhi sehingga tidak jarang dari mereka mudah terperosok ke hal-hal yang tidak baik,
seperti mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual.
h)
Namun mereka juga menunjukkan
ketekunan dan rasa empati yang baik asalkan mereka mendapatkan layanan atau perlakuan dan lingkungan
yang kondusif
3.
Fisik /Kesehatan
a. Baik struktur
maupun fungsi tubuh pada umumnya anak tunagrahita kurang dari normal
b. Pendengaran
dan penglihatannya banyak yang kurang sempurna, kelainan ini bukan pada organ tetapi pada pusat pengolahan di
otak sehingga mereka melihat tetapi tidak memahami
apa yang mereka lihat, mendengar tetapi tidak memahami apa yang mereka dengar.
c. Kurangnya kemampuan
dalam melaksanakan tata laksana pribadi
sehingga mereka tampak tidak sehat, tidak segar dan
mudah terserang penyakit.
B.
DAMPAK DITINJAU DARI TINGKAT
KETUNAGRAHITAAN
1.
Tunagrahita Ringan
Mereka masih mampu melakukan kegiatan bina diri. Dalam belajar
mereka tidak mampu mempelajari
hal-hal yang abstrak. Mereka dapat mengerjakan pekerjaan yang sifatnya semi skilled. Diantara mereka
hanya membutuhkan perhatian tambahan dari gurunya.
2.
Tunagrahita Sedang
Mereka
melakukan kegiatan bina diri
khususnya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan begitu mereka sedikit menggantungkan dirinya
pada orang lain. Mereka dapat
mengerjakan sesuatu yang sifatnya rutin dan membutuhkan pengawasan. Dalam hal kademik mereka hanya mampu melakukan
hal-hal yang sifatnya sosial, seperti menulis
nama, alamat dan nama orang tuanya.
3.
Tunagrahita Berat dan Sangat Berat
Mereka membutuhkan bantuan secara terus
menerus dalam kehidupannya, meskipun masih
bisa dilatih untuk melakukan
hal-hal yang sederhana dan berulang-ulang.
C.
DAMPAK DILIHAT DARI WAKTU TERJADINYA KETUNAGRAHITAAN
1. Anak tunagrahita sejak lahir tidak mereaksi dengan baik terhadap
rangsangan yang diperolehnya. Mereka tampak mengantuk
saja, apatis, tidak pernah sadar, jarang menangis,
kalau menangis susah berhentinya, terlamabat duduk/bicara
dan berjalan.
2. Anak
tunagrahita pada masa kanak-kanak akan berpengaruh dalam bermain, reaksi yang lambat, cepat tapi tidak tepat sehingga
mereka tidak mengeksplorasi lingkungan dengan
baik dan tentu saja akan dijauhi teman-temannya. Mengalami kesulitan
belajar hampir semua mata pelajaran, bisa mengalami kelainan
dalam persepsi, asosiasi,
mengingat kembali, kekurangmatangan motorik, dan gangguan
koordinasi sensomotorik, perhatiannya mudah beralih
3. Anak tunagrahita pada masa puber : pertumbuhan fisik berkembang normal,
tetapi perkembangan berpikir
dan kepribadian berada di bawah usianya. Dampaknya
ia mengalami kesulitan dalam
pergaulan dan mengendalikan diri. Setelah tamat sekolah ia belum siap untuk bekerja.
Kegiatan Belajar 3
Kebutuhan Khusus dan Profil Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita
Kebutuhan anak tunagrahita pada dasarnya sama dengan anak-anak pada umumnya.
Hanya saja ada ketentuan
khusus mengingat
karakteristik anak tunagrahita berbeda-beda.
A. Kebutuhan Khusus Anak Tuna Grahita
1.
Kebutuhan Pendidikan
Penelitian dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh individu
Secara khusus
anak tunagrahita membutuhkan sebagai
berikut:
a.
Jenis mata pelajaran
Bobot
perimbangan mata pelajaran untuk anak tunagrahita 70% pelajaran ketrampilan dan sisanya adalah pembelajaran bersifat akademik
b.
Waktu Belajar
Waktu belajar bagi penderita tunagrahita membutuhkan waktu lebih lama. Kebutuhan
waktu dalam belajar dan pengulangan tergantung pada berat ringannya
ketunagrahitaan.
c. Kemampuan Bina Diri
Kajian Bina Diri dibutuhkan agar anak-anak tuna grahita
tidak tergantung pada orang lain
2.
Kebutuhan Sosial dan Emosi
Tunagrahita sebagaimanaindividu pada umumnya membutuhkan sosialisasi. Mereka mengalami
kesulitan karena kelainannya dan respon lingkungan yang kurang memahaminya. Mereka mengalami kesulitan
dalam membersihkan diri sendiri memasuki dunia
remaja, mencari kerja, tidak memahami arti remaha. Sementara kebutuhan seksual berkembang secara normal. Untuk
itulahdiperlukan para ahli baik untuk anaknya maupun ornag tuanya agar bisa menerima
keadaan anaknya dan mau membantu
anaknya mengembangkan potensi yang
dimilikinya.
3.
Kebutuhan Fisik dan Kesehatan
Bagi tunagrahita sedang dan berat kemungkinan mereka mengalami gangguan
fisik (keseimbangan) dan ketidakmampuan dalam memelihara diri, sehingga cenderung
mengalami sakit.
B.
Profil Pendidikan Anak Tunagrahita
1.
Tujuan Pendidikan Anak Tunagrahita
Tujuan Pendidikan
anak tunagrahita yang diluar jangkauan
kemampuan tidak perlu dipaksakan
harus dikuasai. Jadi perlu penekanan khusus.
Menurut Kirk (1986) tujuan
pendidikan anak tunagrahita adalah:
a. Mengembangkan potensi
sebaik-baiknya
b.
Dapat menolong diri, berdiri sendiri
dan berguna bagi masyarakat
c.
Memiliki kehidpan lahir bathin yang
layak Menurut Suhaeri (1980)
a.
Tujuan pendidikan tunagrahita ringan adalah:
1) Agar dapat mengurus dan membina diri
2) Agar dapat bergaul di masyarakat
3) Agar dapat sesuatu untuk
bekal hidupnya
b.
Tujuan Pendidikan Tunagrahita sedanmg:
1) Agar dapat mengurus diri
2) Agar dapat
bergaul dengan anggota
keluarga dan tetangga
3) Agar dapat mengerjakans
esuatu secara rutin dan sederhana
c.
Tujuan Pendidikan Anak Tunagrahita berat dan sangat
berat
1) Agar mengurus
diri secara sederhana
2) Anak dapat melakukan kesibukan
yang bermanfaat
3) Agar dapat
bergembira
a.
Tempat Pendidikan
1) Sekolah Khusus
2)
Kelas Jauh
Adalah kelas yang dibentuk
jauh dari sekolah
induk karena di sekolah induk
karena di sekolah tersebut banyak anak luar biasa
3)
Guru kunjung
Guru berkunjung ke tempat anak tersebut dan memberi pelajaran
sesuai dengan kebutuhan anak
4)
Lembaga Perawatan
Lembaga ini untuk penderita
tunagrahita berat dan sangat berat.
Disini anak mendapat layanan pendidikan dan perawatan
b.
Di sekolah umum dengan sistem
integrasi (terpadu)
Sistem integrasi memberikan kesempatan kepada
anak tunagrahita belajar,
bermain atau bekerja bersama
dengan anak normal.
Tempat pendidikan yang termasuk sistem integrasi:
1) Di kelas biasa tanpa kekhususanm baik bahan pelajaran
maupun guru tuna grahita, hanya
memerlukanw aktu lebih lama dari
rekan rekannya yang normal.
2)
Di kelas
biasa dengan guru konsultan
3) Di kelas biasa dengan guru kunjung
4) Di kelas
biasa dengan ruang sumber
5) Di kelas khusus di sebagian waktu
6) Kelas khusus
2.
Ciri Khas Pelayanan
a.
Ciri-ciri Khusus
1) Bahasa yang digunakan
2) Penempatan anak tunagrahita
di kelas
3) Ketersediaan program
khusus
b.
Prinsip Khusus
1) Prinsip skala perkembangan mental
2) Prinsip kecepatan motorik
3) Prinsip keperagaan
4) Prinsip pengulangan
5) Prinsip indivisualisasi
3.
Materi
Materi pembelajaran lebih ke unsur praktek yang ada kaitannya
dalam kehidupan sehari-
hari agar hasil belajarnya dapat dikonsumsi masyarakat.
4.
Strategi Pembelajaran
Pada prinsipnya tidak berbeda dengan pendidikan pada umumnya hanya saja harus memperhatikan tujuan
pendidikan, karakteristik murid dan ketersediaan sumber (fasilitas)
5.
Media
6.
Sarana
7.
Fasilitas Pendukung
8.
evaluasi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar