Modul 12 Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4502

Gambar
  Modul 12 Merancang Kegiatan Pembelajaran Kb. 2 Metode Mengajar dan Prosedur Pembelajaran A.       Metode Mengajar Metode mengajar adalah suatu cara yang dilakukan guru untuk menciptakan hubungan antara guru (kegiatan mengajar) dan siswa (kegiatan belajar). Media pembelajaran merupakan sarana yang dapat menunjang optimalisasi kegiatan mengajar guru dan kegiatan belajara siswa. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menimbulkan dan memudahkansiswa belajar. Empat metode yang seringkali digunakan dalam kegiatan belajar mengajar adalah : 1.        Metode Ceramah Metode ceramah adalah metode atau cara mengajar denga penyajian materi yang dilakukan melalui penuturan dan penjelasansecara lisan ole guru kepada siswa. 2.        Metode Tanya awab Metode tanya jawab adalah suatu cara atau metode penyajian bahan pelajaran melalui berbgai bentuk pertanyaan yang dijawab oleh siswa. 3. ...

Modul 6 Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4407

 


MODUL 6

Pendidikan Khusus Anak Tunagrahita

 

 

Kegiatan Belajar 1

Definisi, Klasifikasi, Penyebab, dan Cara Pencegahan Tunagrahita


A.  DEFINISI TUNAGRAHITA


1.    Peristilahan

Dalam bahasa Indonesia istilah yang pernah digunakan misalnya lemah otak, lemah ingatan, lemah pikiran, retardasi mental, terbelakang mental, cacat grahita, dan tunagrahita. Dalam bahasa asing (Inggris) dikenal istilah mental retardation, mental defiency, mentally handicapped, feebleminded, mental subnormality (Moh. Amin, 1995:20). Istilah lain yang banyak digunakan adalah intellectually handicapped, intellectually disabled, dan development mental disability.

Kata “mental” disini diartikan fungsi kecerdasan intelektual dan bukan kondisi psikologis. Dari berbagai macam istilah diatas pada dasarnya sama semua tertuju pada pengertian yang sama yaitu menggambarkan kondisi terlambat dan terbatasnya perkembangan kecerdasan seseorang sedemikian rupa jika dibandingkan dengan rata-rata atau anak pada umumnya disertai dengan keterbatasan dalam perilaku penyesuaian. Kondisi ini berlangsung pada masa perkembangan, dan orientasi sampai sejauh mana individu dalam membutuhkan jenis layanan atau penanganan khusus.

2.    Pengertian

Secara luas dan menjadi rujukan utama ialah definisi yang dirumuskan Grossman (1983) yang secara resmi digunakan AAMD (American Association on Mental Deficiency) sebagai berikut :”ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian dan berlangsung (terfermentasi) pada masa perkembangannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

a.    Fungsi intelektual umum secara signifikan berada di bawah rata-rata, anak tunagrahita IQ paling tinggi 70.

b.    Kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian (perilaku adaptif).

c.    Ketunagrahitaan berlangsung pada periode perkembangan.

Untuk dapat dikatakan tunagrahita seseorang harus memiliki ketiga ciri-ciri tersebut.

Jika hanya memiliki satu ciri-ciri maka belum bisa dikatakan sebagai tunagrahita.

B.  KLASIFIKASI ANAK TUNAGRAHITA

Pengklasifikasian ini pun bermacam-macam sesuai dengan disiplin ilmu maupun perubahan pandangan terhadap keberadaan anak tunagrahita. Klasifikasi yang sejak lama dikenal yaitu debil, imbesil, dan idiot, sedangkan klasifikasi menurut kaum pendidik di Amerika adalah educable mentally retarded (mampu didik), trainable mentally retarded (mampu latih) dan totally custodial dependent (mampu rawat). Klasifikasi ini sudah jarang


digunakan.

Klasifikasi yang digunakan sekarang yang dikemukakan American Asociation on Mental Defeciency (Hallahan, 1982: 43) :

a.    Mild mental retardation (tunagrahita ringan), IQ: 70-75

b.    Moderate mental retardation (tunagrahita sedang), IQ: 55-40

c.    Severe mental retardation (tunagrahita berat), IQ: 40-25

d.   Profound mental retardation (sangat berat), IQ: 25 ke bawah Klasifikasi yang digunakan di Indonesia sesuai PP 72 tahun 1991 :

1. Tunagrahita ringan IQ nya 50-70

2. Tunagrahita sedang IQ nya 30-50

3. Tunagrahita berat dan sangat berat IQ nya kurang dari 30

Adapun pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani yang disebut tipe klinis yaitu:

1.    Down Syndrome (Mongoloid)

2.    Kretin (Cebol)

3.    Hydrocephalus

4.    Microcephalus

5.    Macrocephalus

Klasifikasi yang dikemukakan oleh AAMR 1992 menitikberatkan pada kebutuhannya yaitu: 1) intermitten needs, bantuan itu dibutuhkan secara berkala atau tidak selalu membutuhkan bantuan; 2) limited needs, sering membutuhkan bantuan; 3)extensive needs, yang membutuhkan bantuan dalam jangka lama dan bantuannya serius; dan 4) pervasive needs, kebutuhan bantuan sepanjang waktu.

C.  PENYEBAB DAN CARA PENCEGAHAN KETUNAGRAHITAAN

1.    Penyebab Ketunagrahitaan

a.    Genetik dan Kromosom

b.    Pada Prakelahiran

c.    Pada saat Kelahiran

d.   Selama Masa Perkembangan Anak-anak dan Remaja

2.    Usaha Pencegahan Ketunagrahitaan

a.    Penyuluhan genetik

b.    Diagnostik prenatal

c.    Imunisasi

d.   Tes darah

e.    Program keluarga berencana

f.     Tindakan operasi

g.    Sanitasi lingkungan

h.                          Pemeliharaan kesehatan

i.      Intervensi dini

j.      Diet sesuai dengan petunjuk ahli kesehatan



Kegiatan Belajar 2 Dampak Ketunagrahitaan

 

A.       DAMPAK KETUNAGRAHITAAN SECARA UMUM

1.                 Dampak Terhadap Kemampuan Akademik

Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat terbatas, apalagi yang berkaitan dengan hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) dari pada dengan pengertian. Cenderung menghindar dari perbuatan berfikir, mengalami kesukaran memusatkan perhatian, lapang minatnya sedikit, cenderung cepat lupa, sukar membuat kreasi baru, dan rentang perhatiannya pendek.

2.                 Sosial/Emosional

a)         Ketidakmampuan untuk memahami aturan sosial dan keluarga, sekolah serta masyarakat.

b)  Tidak dapat mengurus diri, memelihara dan memimpin diri

c)   Mudah terperosok ke dalam tingkah laku yang kurang baik

d)  Cenderung bergaul atau bermain bersama dengan anak yang lebih muda darinya

e)        Kehidupan penghayatannya terbatas, tidak mampu menyatakan rasa bangga/kagum

f)         Kepribadian kurang dinamis, mudah goyah, kurang menawan, dan tidak berpandangan luas

g)        Mudah disugesti atau dipengaruhi sehingga tidak jarang dari mereka mudah terperosok ke hal-hal yang tidak baik, seperti mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual.

h)        Namun mereka juga menunjukkan ketekunan dan rasa empati yang baik asalkan mereka mendapatkan layanan atau perlakuan dan lingkungan yang kondusif

3.                 Fisik /Kesehatan

a.  Baik struktur maupun fungsi tubuh pada umumnya anak tunagrahita kurang dari normal

b. Pendengaran dan penglihatannya banyak yang kurang sempurna, kelainan ini bukan pada organ tetapi pada pusat pengolahan di otak sehingga mereka melihat tetapi tidak memahami apa yang mereka lihat, mendengar tetapi tidak memahami apa yang mereka dengar.

c.  Kurangnya kemampuan dalam melaksanakan tata laksana pribadi sehingga mereka tampak tidak sehat, tidak segar dan mudah terserang penyakit.

B.       DAMPAK DITINJAU DARI TINGKAT KETUNAGRAHITAAN

1.                 Tunagrahita Ringan

Mereka masih mampu melakukan kegiatan bina diri. Dalam belajar mereka tidak mampu mempelajari hal-hal yang abstrak. Mereka dapat mengerjakan pekerjaan yang sifatnya semi skilled. Diantara mereka hanya membutuhkan perhatian tambahan dari gurunya.


2.                 Tunagrahita Sedang

Mereka melakukan kegiatan bina diri khususnya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan begitu mereka sedikit menggantungkan dirinya pada orang lain. Mereka dapat mengerjakan sesuatu yang sifatnya rutin dan membutuhkan pengawasan. Dalam hal kademik mereka hanya mampu melakukan hal-hal yang sifatnya sosial, seperti menulis nama, alamat dan nama orang tuanya.

3.                 Tunagrahita Berat dan Sangat Berat

Mereka membutuhkan bantuan secara terus menerus dalam kehidupannya, meskipun masih bisa dilatih untuk melakukan hal-hal yang sederhana dan berulang-ulang.

C.       DAMPAK DILIHAT DARI WAKTU TERJADINYA KETUNAGRAHITAAN

1. Anak tunagrahita sejak lahir tidak mereaksi dengan baik terhadap rangsangan yang diperolehnya. Mereka tampak mengantuk saja, apatis, tidak pernah sadar, jarang menangis, kalau menangis susah berhentinya, terlamabat duduk/bicara dan berjalan.

2. Anak tunagrahita pada masa kanak-kanak akan berpengaruh dalam bermain, reaksi yang lambat, cepat tapi tidak tepat sehingga mereka tidak mengeksplorasi lingkungan dengan baik dan tentu saja akan dijauhi teman-temannya. Mengalami kesulitan belajar hampir semua mata pelajaran, bisa mengalami kelainan dalam persepsi, asosiasi, mengingat kembali, kekurangmatangan motorik, dan gangguan koordinasi sensomotorik, perhatiannya mudah beralih

3. Anak tunagrahita pada masa puber : pertumbuhan fisik berkembang normal, tetapi perkembangan berpikir dan kepribadian berada di bawah usianya. Dampaknya ia mengalami kesulitan dalam pergaulan dan mengendalikan diri. Setelah tamat sekolah ia belum siap untuk bekerja.

 

Kegiatan Belajar 3

Kebutuhan Khusus dan Profil Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita

Kebutuhan anak tunagrahita pada dasarnya sama dengan anak-anak pada umumnya.

Hanya saja ada ketentuan khusus mengingat karakteristik anak tunagrahita berbeda-beda.

A.    Kebutuhan Khusus Anak Tuna Grahita

1.      Kebutuhan Pendidikan

Penelitian dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh individu

Secara khusus anak tunagrahita membutuhkan sebagai berikut:

a.       Jenis mata pelajaran

Bobot perimbangan mata pelajaran untuk anak tunagrahita 70% pelajaran ketrampilan dan sisanya adalah pembelajaran bersifat akademik

b.      Waktu Belajar

Waktu belajar bagi penderita tunagrahita membutuhkan waktu lebih lama. Kebutuhan waktu  dalam              belajar   dan         pengulangan              tergantung    pada    berat    ringannya


ketunagrahitaan.

c.       Kemampuan Bina Diri

Kajian Bina Diri dibutuhkan agar anak-anak tuna grahita tidak tergantung pada orang lain

2.      Kebutuhan Sosial dan Emosi

Tunagrahita sebagaimanaindividu pada umumnya membutuhkan sosialisasi. Mereka mengalami kesulitan karena kelainannya dan respon lingkungan yang kurang memahaminya. Mereka mengalami kesulitan dalam membersihkan diri sendiri memasuki dunia remaja, mencari kerja, tidak memahami arti remaha. Sementara kebutuhan seksual berkembang secara normal. Untuk itulahdiperlukan para ahli baik untuk anaknya maupun ornag tuanya agar bisa menerima keadaan anaknya dan mau membantu anaknya mengembangkan potensi yang dimilikinya.

3.      Kebutuhan Fisik dan Kesehatan

Bagi tunagrahita sedang dan berat kemungkinan mereka mengalami gangguan fisik (keseimbangan) dan ketidakmampuan dalam memelihara diri, sehingga cenderung mengalami sakit.

B.     Profil Pendidikan Anak Tunagrahita

1.      Tujuan Pendidikan Anak Tunagrahita

Tujuan Pendidikan anak tunagrahita yang diluar jangkauan kemampuan tidak perlu dipaksakan harus dikuasai. Jadi perlu penekanan khusus.

Menurut Kirk (1986) tujuan pendidikan anak tunagrahita adalah:

a.       Mengembangkan potensi sebaik-baiknya

b.      Dapat menolong diri, berdiri sendiri dan berguna bagi masyarakat

c.       Memiliki kehidpan lahir bathin yang layak Menurut Suhaeri (1980)

a.       Tujuan pendidikan tunagrahita ringan adalah:

1)      Agar dapat mengurus dan membina diri

2)      Agar dapat bergaul di masyarakat

3)      Agar dapat sesuatu untuk bekal hidupnya

b.      Tujuan Pendidikan Tunagrahita sedanmg:

1)      Agar dapat mengurus diri

2)      Agar dapat bergaul dengan anggota keluarga dan tetangga

3)      Agar dapat mengerjakans esuatu secara rutin dan sederhana

c.       Tujuan Pendidikan Anak Tunagrahita berat dan sangat berat

1)      Agar mengurus diri secara sederhana

2)      Anak dapat melakukan kesibukan yang bermanfaat

3)      Agar dapat bergembira

a.       Tempat Pendidikan

1)      Sekolah Khusus


2)      Kelas Jauh

Adalah kelas yang dibentuk jauh dari sekolah induk karena di sekolah induk karena di sekolah tersebut banyak anak luar biasa

3)      Guru kunjung

Guru berkunjung ke tempat anak tersebut dan memberi pelajaran sesuai dengan kebutuhan anak

4)      Lembaga Perawatan

Lembaga ini untuk penderita tunagrahita berat dan sangat berat. Disini anak mendapat layanan pendidikan dan perawatan

b.      Di sekolah umum dengan sistem integrasi (terpadu)

Sistem integrasi memberikan kesempatan kepada anak tunagrahita belajar, bermain atau bekerja bersama dengan anak normal.

Tempat pendidikan yang termasuk sistem integrasi:

1)      Di kelas biasa tanpa kekhususanm baik bahan pelajaran maupun guru tuna grahita, hanya memerlukanw aktu lebih lama dari rekan rekannya yang normal.

2)      Di kelas biasa dengan guru konsultan

3)      Di kelas biasa dengan guru kunjung

4)      Di kelas biasa dengan ruang sumber

5)      Di kelas khusus di sebagian waktu

6)      Kelas khusus

2.                      Ciri Khas Pelayanan

a.       Ciri-ciri Khusus

1)      Bahasa yang digunakan

2)      Penempatan anak tunagrahita di kelas

3)      Ketersediaan program khusus

b.      Prinsip Khusus

1)      Prinsip skala perkembangan mental

2)      Prinsip kecepatan motorik

3)      Prinsip keperagaan

4)      Prinsip pengulangan

5)      Prinsip indivisualisasi

3.      Materi

Materi pembelajaran lebih ke unsur praktek yang ada kaitannya dalam kehidupan sehari- hari agar hasil belajarnya dapat dikonsumsi masyarakat.

4.      Strategi Pembelajaran

Pada prinsipnya tidak berbeda dengan pendidikan pada umumnya hanya saja harus memperhatikan tujuan pendidikan, karakteristik murid dan ketersediaan sumber (fasilitas)

5.      Media

6.      Sarana


7.      Fasilitas Pendukung

8.      evaluasi

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Modul 9 Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4502

Modul 10 Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4502

Modul 7 Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus | Resume/Ringkasan/ Rangkuman Modul PGSD BI UT PDGK4407