- fungsi korektif, artinya melalui pengajaran remedial dapat diadakan perbaikan terhadap sesuatu yang dipandang masih belum mencapai apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran. Hal-hal yang diperbaiki dan dibetulkan melalui pengajaran remedial antara lain: perumusan tujuan, penggunaan metode mengajar, cara-cara belajar, materi dan alat pengajaran, materi dan alat pengajaran, evaluasi dan segi-segi pribadi murid.
- Fungsi pemahaman, artinya pengajaran remedial dapat membantu murid untuk lebih menyesuaikan dirinya terhadap tuntutan kegiatan belajar. Murid dapat belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan pribadinya sehingga mempunyai peluang yang lebih besar untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih baik.
- Fungsi pengayaan, artinya bahwa materi pengajaran remedial dapat memperkaya varian/jenis metode pengajaran. Materi yang disampaikan dalam pengajaran dalam pengajaran tidak menggunakan metode pembelajaran yang digunakan dalam pengajaran reguler, metode pembelajaran yang digunakan dalam pengajaran remedial lebih mengacu pada materi yang telah lalu yang sulit dipahami, sehingga pengajaran lebih bersifat pengayaan.
- Fungsi akselerasi, artinya pengajaran remedial dapat membantu mempercepat proses pembelajaran, karena pengajaran remedial memberi pengajaran khusus yang memudahkan penangkapan materi oleh siswa-siswi yang mengalami kesulitan belajar untuk mengerti dan menguasai materi sesuai dengan tujuan instruksional dan kurikuler sesuai waktu yang telah ditentukan dalam kurikulum.
- Fungsi terauputik, artinya secara langsungh maupun tidak langsung menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian murid yang diperkirakan menunjukan ada penyimpangan (bimbingan dan konseling).
3. Perbedaan kegiatan remedial dengan pembelajaran biasa
B. Pendekatan dalam Kegiatan Remedial
Secara garis besar ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh (Ross & Stanley), yaitu pendekatan kuratif dan preventif. Sedangkan Warkitri dkk.(1991)menambahkan satu lagi yaitu yang bersifat pengembangan.
1. Pendekatan Bersifat Preventif
pada pendekatan preventif ditujukan kepada siswa yang diperkirakan mempunyai kesulitan berdasarkan informasi yang diperoleh. Sehingga langkah ini merupakan antisipasi atau pencegahan agar apa yang mungkin terjadi dapat dicegah. Pendekatan ini disebut juga sebagai pencegahan. Siswa yang digolongkan dalam usaha tersebut adalah mereka yang diperkirakan dapat menyelesaikan program belajar lebih cepat dari waktu yang direncanakan, atau mereka yang diperkirakan akan lebih lambat dari waktu yang telah diprogramkan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara kelompok maupun secara individual tergantung pada siswanya.
2. Pendekatan yang Bersifat Kuratif
Tindakan pengajaran dikatakan bersifat kuratif bilamana diberikan setelah selesainya program PBM utama diselenggarakan. Tindakan tersebut dilakukan setelah melihat kenyataan bahwa ada seseorang atau sebagian siswa bahkan sebagian besar siswa yang dipandang tidak mampu untuk menyelesaikan program PBM yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Program tersebut dapat dilihat setiap kali pertemaan, setiap satuan unit pelajaran, atau satuan waktu (mingguan, bulanan bahkan triwulan atau semesteran).
Dengan ciri-ciri antara lain prestasi di bawah rata-rata kelas, bahkan siswa yang mempunyai prestasi tinggi di atas rata-rata juga perlu mendapatkan perhatian dengan memberikan tambahan pelajaran ekstra. Sebab selain untuk meningkatkan prestasi secara optimal, juga untuk menyalurkan kepada kesibukan. Karena siswa ini lebih cepat menyelesaikan tugas dibandingkan dari temannya. Selama menanti teman-teman lain yang sedang bekerja atau menyelesaikan tugas berikan tambahan, kalau tidak dia mungkin sekali akan mengganggu teman yang bekerja, atau berkeliaran. Yang jelas prestasi atau kemampuan yang dimiliki lebih tersebut akan ditingkatkan secara maksimal. Justru di kelas-kelas anak yang demikian kurang mendapatkan perhatian guru kelas / bidang studi.
Untuk dapat mencapai sasaran tersebut beberapa tehnik yang dipergunakan dengan pendekatan : pengulangan (repotition), pengayaan (enrichment), dan pengukuhan (Re inforcement) serta pencepatan (acceleration).
3. Pendekatan Pengajaran Remidi bersifat Pengembangan (Developmental)
Seperti yang dikemukakan oleh dinkmeyer dan Caldwell ada satu pendekatan lainnya yaitu pengembangan. (Developmental). Pada dasarnya pendekatan kuratif diberikan sesudah berlangsungnya proses belajar pendekatan preventif dilakukan sebagai tindak lanjut dari perkiraan sebelum terjadinya kesulitan belajar, maka pada pengembangan merupakan tindak lanjut yang dilakukan selama proses belajar berlangsung (during teaching diagnostik). Tujuan utamanya agar siswa dapat segera mengatasi hambatan atau kesulitan yang mungkin akan dialaminya. Pelaksanaannya dapat diberikan berupa pemberial self instructional audio, modul, tutorial dan sebagainya.
C. Jenis-jenis kegiatan Remidial :
- Mengajarkan kembali
- Menggunakan alat peraga
- Kegiatan kelompok
- Tutorial
- Sumber belajar yang relevan
D. PrinsipPelaksanaan Kegiatan Remedial
1. Apabila terdapat beberapa orang siswa yang mengalami kesuliatan yang sama, maka kegiatan remedial hendaknya diberikan terhadap kelompok siswa secara bersama-sama.
2. Proporsi bantuan yang diberikan ssuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa
3. Dapat dilaksanakan sdendiri oleh guru, guru bersama siswa, atau meminta bantua siswa lain
4. Metode yang diterapkan hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, serta dapat membangkitkan motivasi siswa.
E. Prinsip Pemilihan Kegiatan
1. Memanfaatkan latihan khusus
2. Menekankan segi kekuatan yang dimiliki siswa
3. Memanfaat penggunaan media yang multi-sensori
4. Memanfaatkan permainan sebagai sarana belajar.
F. Prosedur Kegiatan Remedial
Dalam melaksanakan kegiatan remedial sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai
berikut :
a. Analisis Hasil Diagnosis
Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Melalui kegiatan diagnosis guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapatkan bantuan. Untuk keperluan kegiatan remedial, tentu yang menjadi fokus perhatian adalah siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar .
b. MenemukanPenyebab Kesulitan
Setelah guru mengetahui siswa-siswa mana yang harus mendapatkan remedial, informasi selanjutnya yang harus diketahui guru adalah topik atau materi apa yang belum dikuasai oleh siswa tersebut. Sebelum merancang kegiatan remedial, terlebih dahulu harus mengetahui mengapa siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.
c. Menyusun Rencana Kegiatan Remedial
Setelah diketahui siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial, topik yang belum dikuasai setiap siswa, serta faktor penyebab kesulitan, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pembelajaran. Sama halnya pada pembelajaran pada umumnya, komponen-komponen yang harus direncanakan dalam melaksanakan kegiatan remedial adalah sebagai berikut;
· Merumuskan indikator hasil belajar
· Menentukan materi yang sesuai engan indikator hasil belajar
· Memilih strategi dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa
· Merencanakan waktu yang diperlukan
· Menentukan jenis, prosedur dan alat penilaian.
d. Melaksanakan Kegiatan Remedial
Setelah kegiatan perencanaan remedial disusun,langkah berikutnya adalah melaksanakan kegiatan remedial. Sebaiknya pelaksanaan kegiatan remedial dilakukan sesegera mungkin, karena semakin cepat siswa dibantu mengatasi kesulitan yang dihadapinya, semakin besar kemungkinan siswa tersebut berhasil dalam belajarnya.
e. Menilai Kegiatan Remedial
Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah dilaksanakan, harus dilakukan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji kemajuan belajar siswa.Apabila siswa mengalami kemauan belajar sesuai yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tetapi, apabila siswa tidak mengalami kemajuan dalam belajarnya berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif.
Strategi dan Teknik Remedial
Beberapa teknik dan strategi yang dipergunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain, (1) pemberian tugas/pembelajaran individu (2) diskusi/tanya jawab (3) kerja kelompok (4) tutor sebaya (5) menggunakan sumber lain.
(Ditjen Dikti, 1984; 83).
kegiatan belajar 2
kegiatan pengayaanA. Hakikat Pembelajaran PengayaanKegiatan pengayaan adalah suatu kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya. Pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya.
Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu
B. Jenis Kegiatan Pengayaan
Dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pengayaan, guru menerapkan pendekatan individu. Kegiatan pengayaan lebih bersifat fleksibel dibandingkan dengan kegiatan remedial. Artinya, kegiatan pengayaan dalam rangka memanfaatkan sisa waktu merupakan kegiatan yang menyenangkan dan dapat merangsang kreatifitas siswa secara mandiri. Ada beberapa kegiatan yang dapat dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam kaitannya dengan pengayaan. Berikut ini adalah beberapa kegiatan pengayaan yang dikemukakan oleh Julaeha (2007):
1. Tutor Sebaya
Selain efektif dalam kegiatan remedial, tutor sebaya juga efektif digunakan dalam kegiatan pengayaan. Melalui keiatan tutor sebaya, pemahaman siswa terhadap suatu konsep akan meningkat karena selain mereka harus menguasai konsep yang akan dijelaskan mereka juga harus mencari teknik menjelaskan konsep tersebut kepada temannya. Selain itu tutor sebaya juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif tingkat tinggi.
2. Mengembangkan Latihan
Siswa kelompok cepat dapat diminta untuk mengembangkan latihan praktis yang dapat dilaksanakan oleh teman-temannya yang lambat. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk pendalaman materi yang menuntut banyak latihan, misalnya pada mata pelajaran matematika. Guru juga bisa meminta siswa kelompok cepat untuk membuat soal-soal latihan beserta jawabannya yang akan digunakan dalam kegiatan remedial atau sebagai bahan latihan dalam kegiatan tutor sebaya.
3. Mengembangkan Media dan Sumber Pembelajaran
Siswa kelompok cepat diberi kesempatan untuk membuat hasil karya berupa model, permainan atau karya tulis yang berkaitan dengan materi yang dipelajari yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kelompok lambat.
4. Melakukan Proyek
Keterlibatan siswa dalam suatu proyek atau mempersiapkan suatu laporan khusus berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari merupakan kegiatan pengayaan yang paling menyenangkan. Kegiatan ini mampu meningkatkan motivasi belajar, kesempatan mengembangkan bakat, dan menambah wawasan baru bagi siswa kelompok cepat.
5. Memberikan Permainan, Masalah atau Kompetensi Antarsiswa
Dalam kegiatan ini, guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk memecahkan suatu masalah atau permainan yang berkaitan dengan materi pelajaran agar mereka merasa tertantang. Melalui kegiatan ini, mereka akan berusaha untuk memecahkan masalah atau permainan dan mereka juga akan belajar satu sama lain dengan membandingkan strategi/teknik yang mereka gunakan dalam memecahkan permasalahan atau permainan yang diberikan.
C. Faktor Yang Harus Diperhatikan
1. Faktor Siswa
Setiap siswa memiliki minat yang berbeda. Hal ini sangat perlu diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan kegiatan pengayaan. Kesesuaian kegiatan pengayaan dengan minat siswa akan memacu siswa untuk lebih berhasil dalam belajarnya. Jika kegiatan yang dipilih tidak sesuai dengan minatnya maka semangat siswa akan melemah dalam mempelajari sesuatu.
2. Faktor Manfaat Edukatif
Faktor penting kedua yang perlu diperhatikan oleh guru adalah kebermanfaatan kegiatan pengayaan itu sendiri. Jangan sampai kegiatan pengayaan yang dilaksanakan merugikan siswa atau menimbulkan kesulitan bagi siswa dan mengganggu proses perkembangannya. Sebaiknya kegiatan pengayaan yang dilaksanakan benar-benar bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan potensinya. Sehingga bermanfaat dalam menambah pengetahuan, keterampilan, dan nilai/sikap siswa.
3. Faktor Waktu
Kegiatan pengayaan diberikan untuk mengembangkan potensi siswa dengan memanfaatkan kelebihan waktu pada saat siswa lain melakukan kegiatan remedial. Jika siswa yang lambat telah menguasai kompetensi sesuai harapan dan kegiatan pembelajaran biasa akan dilaksanakan/dilanjutkan, maka secara terprogram kegiatan pengayaan untuk kelompok siswa cepat harus segera berakhir.
Sementara itu Arikunto (1986), juga dalam Julaeha (2007:9.38) menyebutkan faktor-faktor penting lainnya yang juga harus diperhatikan oleh guru dalam menentukan dan memilih kegiatan pengayaan. Faktor-faktor tersebut antara lain:
- Siswa lebih menyukai kegiatan di luar kelas
- Siswa lebih suka beraktivitas dari pada hanya berteori di belakang meja
- Kegiatan menemukan sendiri sesuatu yang baru lebih merangsang minat siswa dibanding kegiatan yang sifatnya penjelasan
- Kegiatan yang dengan cepat dapat menunjukkan hasil, lebih disukai siswa dari pada kegiatan yang menuntut penggunaan waktu yang relatif lama.
Komentar
Posting Komentar